TELADAN

Terpincut Sepeningggal Syekh Ali

Ada juga kisruh akan tradisi di Indonesia yang “tak ada di jaman Nabi” dan buat sebagian saudara seiman mempersoalkan. Rata-rata mereka yang pernah mengecup wanginya study Mekkah-Madinah. Polemik ini berbuntut pada hembusan “anti-arab” dan segala sesuatu yang telah ada di sekitar bermasalah.

Menyaksikan itu, Syekh Ali yang baru lahir, menuntut ilmu sampai menjadi imam di mesjid bagian Madinah memandang sederhana. Pada mereka yang bersahabat dengan adat-budaya nusantara yang Islami, tetap santun. Pada mereka yang tak sependapat juga menghargai.

Di negerinya memang sulit menemukan ritus tahlilan, muludan, manaqiban dan sejenisnya, ya sulit. Madzhab resmi negara pun memang melarang itu. Tapi seperti katanya, bahwa semua pasti punya tujuan dan dalil. Cara memahaminya dengan membuka luasnya jiwa dan etika dewasa menyikapinya.

Sepanjang kita tahu dirinya mampu bergaul dengan ragam ormas Islam juga tokoh sentralnya. Padahal kalau kita lihat tiap ormas punya perbedaan juang, tapi lagi-lagi rasa persaudaraan iman mempersatukan. Itu juga yang terus dirinya perjuangkan.

“Saya yakin,” katanya saat Munas PKS, “bahwa terkait sikap Presiden Macron akan tersimpan hikmah tersentuhnya orang-orang yang hijrah ke Islam. Islam tak sebiadab yang digambarkan.”

Ya, selalu ada optimisme memandang hal dan juga mengajarkan kita betapa dunia adalah ladang, malas menanam esok tak akan mendapat apa-apa.

Amat singkat Syekh hidup di Indonesia tapi namanya harum juga merasuk di jiwa rakyat yang merindu arti sebuah cinta. Sampai kini tempat istirahatnya di Daqu ramai diziarahi. Yasinan, doa, dan tangis cinta dihantarkan pada bulan tepat pada usia 45 tahun.

Saya jadi ingat pengajiannya di Masjid intansi merah bahwa yang paling untung itu berniaga dengan Allah. Tak ada ruginya dan pasti untungnya. Itu kata Allah bukan kata manusia yang sering lalai.

Bagaimana caranya?

Dirikan shalat, perbanyak sedekah, dan lakukan karena Allah semata-mata. Kalau bisa maka Allah akan memberi karunia tak terhingga. Wallahu ‘alam. []

Pandeglang, 6/2/2021 09:07

Mahyu An-Nafi

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button