DAERAH

Presidium GENAP: Ketahanan Keluarga Jadi Benteng Hadapi Tantangan Zaman

Cimahi (Suaraislam.id) — Ketahanan keluarga dinilai menjadi salah satu benteng utama dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan zaman yang semakin kompleks. Peran orang tua dalam pendidikan agama, pembentukan karakter, pengawasan pergaulan, hingga pendampingan anak di era digital dinilai tidak bisa digantikan oleh pihak lain.

Hal itu disampaikan Presidium Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual (GENAP) sekaligus Ketua Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat (API Jabar), Ustaz Asep Syaripuddin (UAS), dalam Kajian Ahad (JIHAD) di Masjid Al-Muawanah, Kompleks Perumahan Parmindo, Cimahi, Ahad (9/8/2026).

Kajian yang diikuti lebih dari 230 jamaah ikhwan dan akhwat tersebut mengangkat sejumlah persoalan yang berkaitan dengan ketahanan keluarga, pendidikan karakter anak, pergaulan generasi muda, serta tantangan nilai dan moral di tengah perubahan sosial.

Ustaz Asep atau yang akrab disapa Kang UAS itu menegaskan, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama sekaligus utama bagi anak. Karena itu, tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga mencakup pendidikan agama, pemberian keteladanan, pengawasan pergaulan, serta pendampingan terhadap tumbuh kembang anak.

Dalam tausiyahnya, Kang UAS juga menjelaskan perspektif Islam mengenai hubungan seksual dan batas-batas perilaku yang diperbolehkan menurut syariat.

Ia merujuk kisah kaum Nabi Luth AS sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, antara lain QS Al-A’raf ayat 80–84. Menurutnya, ayat-ayat tersebut perlu menjadi bagian dari pendidikan keagamaan untuk memperkuat pemahaman umat mengenai nilai moral, tanggung jawab, serta batasan perilaku dalam Islam.

Ia juga menyampaikan sejumlah hadis yang membahas larangan terhadap perbuatan kaum Nabi Luth. Namun, ia mengingatkan agar persoalan tersebut dipahami melalui ilmu agama dan koridor hukum yang berlaku.

Kang UAS menekankan bahwa persoalan sosial dan moral harus dihadapi melalui pendidikan, dakwah, keteladanan, serta mekanisme hukum yang berlaku, bukan dengan kekerasan atau tindakan main hakim sendiri.

Memasuki momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kang UAS juga mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif dan mendidik.

Ia meminta panitia kegiatan kemerdekaan di berbagai daerah memilih bentuk perlombaan yang mampu memperkuat persaudaraan, gotong royong, sportivitas, kreativitas, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa.

Menurutnya, kegiatan hiburan juga seharusnya tetap memperhatikan nilai kesopanan dan pendidikan karakter sehingga tidak menjadikan perilaku yang dianggap tidak sesuai sebagai bahan lelucon atau tontonan.

“Rayakan kemerdekaan ke-81 dengan kegiatan-kegiatan yang positif, mendidik, mempererat persaudaraan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button