OASE

Tiga Dimensi Maulid Nabi Saw

Buku yang ditulis Imam At-Tirmidzi, Asy-Syamaail al-Muhammadiyah (Mengenal Pribadi Agung Nabi Muhammad SAW.) sangat lengkap tentang sosok dan kebiasaan Nabi dalam keseharian.

Fadlan Al-Ikhwani menulis buku ”Dahsyatnya 7 Sunnah” menyebutkan tujuh sunnah Nabi saw. yang mesti melekat pada diri muslim yakni menjaga wudhu’ tahajjud & witir, shalat berjamaah, tadabbur Al-Qur’an, shalat dhuha, puasa senin-kamis dan sedekah. Jika kita tidak mampu menjaga semua, setidaknya satu atau dua ibadah tersebut melekat dalam diri kita.

Ketiga, Dakwah (gerakan membangun peradaban). Jika sudah merenungi sirah dan mengamalkan sunnahnya, maka kewajiban kita meneruskan dakwahnya. Sejak beliau diutus (40 tahun) sampai wafat (63 tahun) atau selama 23 tahun, adalah masa dakwah yang penuh tantangan, perjuangan dan pengorbanan.

Gerakan dakwah yang diawali sembunyi (tiga tahun), lalu terang-terangan dengan resiko yang sangat berat seperti siksaan, boikot, pengusiran dan hijrah dua kali, hingga Fathul Makkah. Keberhasilan dakwah bukan hanya pada masanya, akan tetapi tampilnya kader dai yang tangguh ke perjuru dunia yakni para shahabat, tabi’in, dan generasi seterusnya. Beliau berpesan,”Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Ahmad).

Buku-buku yang ditulis oleh pakar sejarah baik orientalis maupun kalangan umat Islam, menggambarkan betapa dahsyat dakwah Nabi saw. hingga tersebar ke seluruh dunia. Semisal Thomas W. Arnold dinilai objektif menulis “The Preaching of Islam” yang mengurai gerakan dakwah Nabi ke berbagai penjuru dunia hingga ke Indonesia.

Sebuah buku kontroversial ditulis Michael H. Hart, “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”, menempatkan Nabi Muhammad saw. pada urutan pertama. Beliau mengatakan, “Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi”.

Akhirnya, momentum Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang datang setiap tahun, bukan soal waktu atau tanggal. Akan tetapi, substansinya untuk menyerap cahaya iman yang menyinari alam semesta dan bagaimana umat Islam mengimplementasikan dalam kehidupan.

Pun, bukan hanya seremonial kegembiraan sesaat tanpa makna, tetapi saat yang tepat menanamkan dan menumubuhkan rasa cinta kepadanya. Kelak, setiap orang yang mencintai dan shalawat kepadanya akan mendapat syafaat uzma. Allahu a’lam bish-shawab.

Hasan Basri Tanjung, Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button