IBRAH

Tragedi Qabil dan Habil

Di antara embun pertama bumi yang baru saja dihuni manusia, dua sosok muda berdiri dalam diam. Qabil dan Habil—dua putra Adam, manusia pertama—tengah memandang persembahan mereka kepada Tuhan.

Di tanah lapang itu, asap tipis naik ke langit dari persembahan Habil: seekor domba terbaik, berdaging gemuk dan sehat. Di sisi lain, Qabil membawa hasil panen seadanya—tangkai-tangkai tanaman yang kering dan tidak segar.

Lalu angin berembus pelan, membawa tanda yang membelah takdir keduanya. Api dari langit turun dan menyambar persembahan Habil. Persembahan itu diterima. Sementara sesajen Qabil dibiarkan dingin, tanpa isyarat apa pun. Sejak saat itu, kisah pertama tentang pembunuhan manusia dimulai.

Benih Kegelapan di Hati

Al-Qur’an menuturkannya dengan lugas namun getir dalam surah Al-Maidah ayat 27–31. Dua anak Adam mempersembahkan kurban kepada Allah. Satu diterima, yang lain tidak. Qabil marah. Ia merasa ditolak, dipermalukan, kalah oleh saudaranya sendiri. “Aku pasti membunuhmu,” katanya kepada Habil.

Namun Habil menjawab dengan tenang, sebuah kalimat yang akan dikenang sepanjang sejarah manusia:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Jika engkau mengulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Itulah saat ketika manusia pertama kali menatap wajah kemarahan yang lahir dari iri. Tidak ada harta yang diperebutkan, tidak pula kekuasaan. Hanya perbedaan derajat takwa—sesuatu yang abstrak namun memantik amarah yang konkret.

Dalam tafsir para ulama, disebutkan bahwa Qabil merasa lebih berhak atas saudari kembarnya yang cantik, yang kemudian dipinang untuk Habil. Iri berubah menjadi dendam, dendam menjadi rencana, dan rencana itu akhirnya menjadi darah.

Pembunuhan yang Mengubah Dunia

Hari itu, Qabil mengintai saudaranya. Dalam kisah klasik yang diceritakan dari generasi ke generasi, Habil sedang menggembalakan dombanya. Qabil menghampiri. Kata-kata tak banyak terucap, hanya ada desir napas yang menahan murka. Dengan sebongkah batu di tangan, Qabil menghantam kepala saudaranya hingga tewas.

Di situ, di tanah yang lembap oleh darah dan debu, bumi menyaksikan tragedi pertamanya. Manusia membunuh manusia. Bukan karena lapar, bukan karena bertahan hidup, melainkan karena rasa tidak rela.

Qabil terpaku. Ia menatap tubuh saudaranya yang kaku. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu, Allah mengirim seekor burung gagak yang mengais tanah, menggali lubang, dan menimbun bangkai gagak lain. Qabil pun sadar. Ia menatap ke langit dan menyesal, “Celakalah aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung ini untuk menguburkan mayat saudaraku?”

Dari situ manusia belajar tentang kematian, tentang penguburan, tentang penyesalan yang datang terlambat.

1 2Laman berikutnya
Back to top button