#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Universitas Islam Gaza Bangkit Kembali

Universitas ini berusaha melanjutkan pendidikan rakyat Palestina di tengah kehancuran yang ditimbulkan oleh perang genosida Israel di Gaza.

Laboratorium yang Hilang dan Pendidikan Praktik

Penggunaan laboratorium, peralatan medis, penanganan sampel, pelaksanaan berbagai pengujian, serta analisis hasil merupakan jembatan yang menghubungkan pengetahuan teori mahasiswa dengan kasus nyata di lapangan. Hancurnya fasilitas-fasilitas tersebut membuat banyak mata kuliah yang sebelumnya bergantung pada pelatihan praktik kini hanya dapat diajarkan secara teoritis.

Sebagai alternatif, universitas mulai memanfaatkan simulasi digital dan rekaman eksperimen untuk mengajarkan mikrobiologi medis, biokimia, hematologi, diagnostik molekuler, laboratorium optik medis, hingga pelatihan fisioterapi.

Namun, menurut Abdulraouf al-Manama, solusi tersebut hanyalah jalan keluar sementara. Simulasi digital tidak dapat menggantikan laboratorium nyata yang sangat dibutuhkan mahasiswa untuk memperoleh keterampilan praktis sekaligus rasa percaya diri.

Antara Ruang Kuliah dan Rumah Sakit

Auditorium Universitas Islam Gaza yang hancur dijadikan sebagai tempat pengungsian warga Gaza. [AP]

Deema Muhaisen, seorang mahasiswi kedokteran, merasakan sendiri bagaimana pendidikannya berubah drastis setelah laboratorium universitas hancur. Sebelum perang, ia menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium untuk mengasah keterampilan yang diperlukan sebagai calon dokter.

Namun, sejak Fakultas Kedokteran dihancurkan pada 9 Desember 2023, ia tidak lagi memiliki tempat belajar yang tetap. Sebagian besar proses belajarnya kini berpindah ke rumah sakit dan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Dalam banyak kesempatan kami menerima kuliah di sudut-sudut rumah sakit atau di sela-sela ruang perawatan pasien. Kami berkumpul mengelilingi dokter di tempat-tempat yang bahkan tidak memenuhi syarat minimum sebagai lingkungan pendidikan,” katanya.

“Hal yang paling saya rindukan adalah interaksi klinis secara rutin dengan pasien di bawah bimbingan akademik, karena pengalaman itulah yang menjadi fondasi dalam membangun keterampilan dan kepercayaan diri seorang mahasiswa kedokteran.”

Namun, prioritas utama para dokter—yang pada akhirnya menjadi pengajar bagi Muhaisen—adalah merawat korban luka. Di sisi lain, rumah-rumah sakit yang penuh sesak juga memiliki ruang yang sangat terbatas untuk melatih mahasiswa.

Karena itu, Muhaisen berusaha memperoleh pengalaman praktik dengan membantu para dokter secara sukarela. Selama dua tahun ia menjadi relawan di unit gawat darurat, ruang perawatan luka, dan departemen bedah di sejumlah rumah sakit di Gaza utara maupun selatan.

Awalnya ia hanya mengerjakan tugas-tugas sederhana, tetapi seiring meningkatnya kebutuhan tenaga medis, tanggung jawab yang diberikan kepadanya pun semakin besar.

“Saya mulai membantu di ruang operasi, memantau banyak pasien setelah menjalani pembedahan, serta menanggapi kebutuhan dan keluhan mereka,” ujarnya.

“Pengalaman itu memberi saya pengalaman praktik yang sangat berharga sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab saya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button