#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Universitas Islam Gaza Bangkit Kembali

Universitas ini berusaha melanjutkan pendidikan rakyat Palestina di tengah kehancuran yang ditimbulkan oleh perang genosida Israel di Gaza.

Kesenjangan antara Teori dan Praktik

Area kampus Universitas Islam Gaza dijadikan sebagai tempat pengungsian warga Gaza. [AP]

Yassin al-Nounou menjelaskan bahwa hilangnya laboratorium bukan sekadar kehilangan peralatan. Yang lebih berat adalah munculnya kesenjangan antara pengetahuan teori mahasiswa dan pengalaman praktik yang seharusnya mereka peroleh melalui penggunaan langsung berbagai alat medis.

“Dulu mahasiswa mempelajari setiap alat, memahami bagian-bagiannya, cara kerjanya, dan bagaimana menggunakannya sehingga ketika memasuki dunia kerja mereka sudah siap,” katanya.

“Kini tidak ada lagi peralatan maupun laboratorium seperti sebelumnya.”

Akibatnya, universitas terpaksa mengandalkan penjelasan teoritis, video pembelajaran, serta rekaman eksperimen untuk menyampaikan materi kepada mahasiswa.

“Selama masa ini mahasiswa mulai merasa cemas. Mereka bertanya, ‘Bagaimana kami bisa bekerja dengan sesuatu yang belum pernah kami lihat secara langsung? Bagaimana kami menggunakan alat yang belum pernah kami pegang sendiri?'” ujar al-Nounou.

Untuk mengurangi kesenjangan tersebut, universitas menjalin kerja sama dengan pusat-pusat layanan kesehatan, rumah sakit, dan berbagai lembaga lokal agar mahasiswa dapat memadukan pembelajaran teori dengan pengalaman praktik di lapangan.

Menghidupkan Kembali Perkuliahan

Meskipun berbagai fakultas mengalami kerusakan yang sangat parah, Universitas Islam Gaza tetap berupaya mencari cara untuk secara bertahap mengembalikan perkuliahan tatap muka. Yassin al-Nounou mengatakan bahwa hancurnya kampus utama merupakan hambatan paling nyata bagi dimulainya kembali perkuliahan secara langsung.

Gedung-gedung yang masih berdiri di lingkungan kampus sangat sedikit, dan banyak di antaranya masih digunakan sebagai tempat penampungan pengungsi. Sebagai solusi, universitas mendirikan lima cabang dan fasilitas pendidikan yang tersebar di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Langkah ini diharapkan memudahkan mahasiswa yang kini tersebar di berbagai daerah untuk tetap melanjutkan kuliah tanpa harus menempuh perjalanan jauh menuju kampus utama. Selain itu, universitas juga mengandalkan pembelajaran daring, simulasi virtual, rekaman eksperimen praktikum, penyusunan ulang kurikulum akademik, serta memperluas kesempatan praktik lapangan.

Namun, menurut Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Abdulraouf al-Manama, seluruh langkah tersebut hanya merupakan solusi sementara. Universitas tetap belum memiliki laboratorium yang lengkap, padahal fasilitas itu sangat penting untuk membentuk keterampilan praktik mahasiswa.

Membangun Kembali Sistem Pendidikan

Membangun kembali universitas bukan sekadar memperbaiki gedung-gedung yang rusak. Yang dibutuhkan adalah rekonstruksi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, termasuk pembangunan laboratorium, penyediaan peralatan, serta bahan-bahan pelatihan yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar.

Universitas juga membutuhkan berbagai perlengkapan baru, seperti peralatan analisis laboratorium, mikroskop, inkubator, alat sterilisasi, instrumen pengukuran, komputer khusus, bahan kimia, serta reagen laboratorium.

Namun, blokade Israel terhadap Gaza serta sulitnya memperoleh peralatan medis, bahan bangunan, dan suku cadang menjadi hambatan besar dalam upaya menghidupkan kembali universitas tersebut. Akibatnya, berbagai rencana pembangunan kembali masih berada pada tahap konseptual dan sangat bergantung pada tersedianya dana serta kemampuan mengimpor peralatan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button