NUIM HIDAYAT

Waspadai Komunisme Gaya Baru di Indonesia

Yang terpenting saat ini adalah menjaga anak-anak Muslim dari pengaruh paham-paham yang merusak jiwa itu. Faham ini bila dilihat sekejap tidak membahayakan. Tapi bila diteliti secara mendalam, maka akan nampak bahayanya baik untuk individu, keluarga, masyarakat dan negara.

Paham komunis dengan berbagai variannya saat ini, yang jelas tidak menganggap penting peran agama atau Tuhan dalam kehidupan. Paham ini hanya melihat manusia dari sudut materinya belaka. Maka jangan heran banyak pejabat sekarang yang menyatakan jangan fanatik, jangan radikal, harus moderat, semua agama itu sama saja dan seterusnya.

Mereka menyerukan spiritualitas tanpa agama. Mereka menyerukan akal, tanpa mementingkan jiwa. Menyerukan dunia dan mengeyampingkan akhirat.

Maka jangan heran dalam tindakan politik praktisnya, mereka menjadi pro komunis, anti fanatisme atau radikalisme, anti kitab suci dan seterusnya.

Maka meski masyarakat Islam malam ini banyak yang mengajak untuk menonton film pengkhianatan G30S PKI, mereka menolaknya. Mereka menganggap film itu pro Orde Baru anti PKI. Mereka lebih suka menonton film-film yang pro PKI seperti “Jagal” atau “Act of Killing.”

Maka jangan heran kini ada penghilangan patung diorama Soeharto, Sarwo Edhie dan Nasution di Markas Kostrad. Ini bukan soal halal atau haramnya patung. Ini adalah upaya-upaya untuk menghilangkan peran tokoh-tokoh nasional dalam menumpas gerakan PKI.

Di kampus-kampus gerakan KGB juga melakukan deislamisasi. Gerakan itu didahului dengan riset terhadap berbagai perguruan tinggi negeri yang terdampak radikalisme. Kemudian diikuti dengan pembatasan pengajian di kampus, pengawasan dosen-dosen yang dianggap radikal, pembatasan lembaga dakwah kampus dan lain-lain.

Jadi gerakan KGB dengan segala variannya di Indonesia bukanlah omong kosong, mereka sedang bangkit. Mereka sedang menguasai tanah air. Umat Islam mesti paham akan masalah ini. Know your enemy dengan tepat, agar tidak salah melangkah. Umat Islam tetutama tokoh-tokohnya perlu lebih meningkatkan ukhuwah menghadapi tantangan berat ini. Wallahu azizun hakim.

Nuim Hidayat, Ketua DDII Depok (2012-2021), Anggota MIUMI dan MUI Depok.

Laman sebelumnya 1 2

Artikel Terkait

Back to top button