IBADAH

Ziarah Kubur Bisa Kapanpun

Jangan Terjebak dalam Kesyirikan

Dalam hadits yang telah disebutkan diatas, Rasulullah saw menegaskan, “Dulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi sekarang berziarahkah kalian.” (HR Muslim)

Dulu, artinya disaat awal Islam, umat masih dangkal akidahnya dan tradisi jahiliyah yang suka meratap-ratapi janazah masih lekat. Atau bahkan tradisi kesyirikan seperti minta berkah kepada ahli kubur.

Inilah yang perlu mendapat atensi kita umat Islam saat berziarah kubur yang seyogyanya mendapat pahala dari Allah Swt, tapi justru terjebak dalam kebid’ahan dan bahkan kesyirikan karena tidak dibarengi dengan aqidah yang kuat.

Al-Maqrizi, seorang ulama madzhab Syafi’i menerangkan, ada tiga macam ziarah kubur yang sering dipraktekan umat berikut :

زيارة القبور – على ثلاثة أقسام: يزورون الموتى فيدعون لهم. وهذه هي الزّيارة الشرعيّة. يزورونهم يدعون بهم، فهؤلاء هم المشركون في الألوهيّة والمحبّة. يزورونهم فيدعونهم أنفسهم … وهؤلاء هم المشركون في الربوبيّة

“Ziarah kubur ada tiga macam: Pertama, kaum yang berziarah kubur untuk mendoakan mayit. Ini adalah ziarah kubur yang syar’i. Kedua, kaum yang berziarah kubur untuk berdoa (kepada Allah) dengan perantaraan mayit (tawasul). Mereka adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan dalam uluhiyah dan mahabbah. Ketiga, kaum yang berziarah kubur untuk berdoa kepada mayit … mereka adalah orang-orang yang berbuat kesyirikan dalam rububiyah” (Tajrid at-Tauhid al-Mufid, hal. 20).

Tawasul kepada orang yang sudah mati, tidak diperbolehkan, bahkan ini termasuk kesyirikan. Sebab inilah jenis kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin terdahulu. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, mereka berkata: tidaklah kami menyembah sesembahan-sesembahan itu kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zumar: 3).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:

فإن غالب الأمم كانت مقرة بالصانع ولكن تعبد معه غيره من الوسائط التي بظنونها تنفعهم أو تقربهم من الله زلفى

“Mayoritas umat manusia yang ada mengakui bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, namun mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah juga sebagai perantara, yang menurut sangkaan mereka bisa memberikan manfaat untuk mereka, atau untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/482).

Adapun berdoa meminta hajat kepada mayit, ini jelas merupakan kesyirikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 106).

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ۘ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

“Janganlah kamu berdoa di samping (berdoa) kepada Allah, juga berdoa kepada selain-Nya. Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia” (QS. Al-Qashash: 88).

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button