25 Tahun Tragedi 9/11: Saat Teori Konspirasi Dijadikan Senjata Politik Arus Utama AS
Platform YouTube, yang meluncur empat tahun setelah tragedi tersebut, menjadi wadah baru bagi teori-teori ini untuk berkembang. Film seperti Loose Change, yang mengklaim bahwa serangan tersebut dirancang atau “dibiarkan terjadi” oleh elemen dalam pemerintah AS, meraih jutaan penonton. Klaim bahwa gedung WTC diruntuhkan melalui peledakan terencana (controlled demolition) juga membentuk komunitas daring tersendiri.
“Teori konspirasi akan selalu ada,” catat Drochon. “Momen perubahannya terjadi ketika para politisi mulai aktif menggunakannya sebagai senjata politik.”
Momen tersebut menguat pada 2016, saat Donald Trump berkampanye untuk masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.
Trump sebelumnya telah membangun profil politiknya dengan mempromosikan teori konspirasi birtherism—klaim palsu bahwa Barack Obama tidak lahir di AS sehingga tidak sah menjadi presiden. Setelah menjabat, Trump berulang kali menguatkan klaim-klaim konspiratif lainnya, seperti isu deep state hingga gerakan QAnon.
Menurut Drochon, langkah Trump merangkul pemilih pro-konspirasi berhasil menggalang basis massa baru yang sebelumnya tidak aktif secara politik. “Trump menggerakkan pemilih jenis tersebut, mirip dengan dinamika yang terjadi pada referendum Brexit di Inggris,” jelasnya.
Pada saat yang sama, ekosistem media sosial mempercepat penyebaran narasi tersebut. “Media sosial memberi ruang bagi teori konspirasi untuk tumbuh dan makin menonjol,” ujar Drochon.
Ketika narasi tak berdasar dianggap sebagai kebenaran, basis pendukung MAGA (Make America Great Again) berulang kali mengklaim tanpa bukti bahwa Pemilu 2020 diwarnai kecurangan. Pada 6 Januari 2021, massa menyerbu Gedung Capitol saat Kongres hendak mengesahkan kemenangan Joe Biden. Symbol dan slogan QAnon terlihat jelas di antara kerumunan tersebut.
Peristiwa ini membuktikan bahwa klaim konspiratif di dunia maya dapat diarusutamakan oleh pemegang kekuasaan hingga memicu aksi politik nyata. “Konspirasi menjadi ancaman serius ketika aktor politik paling berkuasa mengadopsinya,” tegas Drochon.
Dua puluh lima tahun berlalu, Donald Trump kembali berada di pusat panggung politik AS dan menyampaikan versinya sendiri mengenai tragedi tersebut. Dalam acara peringatan baru-baru ini, ia mengklaim bahwa petugas pemadam kebakaran harus memegang dan membawanya keluar dari Ground Zero karena kekhawatiran bangunan sekitar akan runtuh.
Ini bukan kali pertama Trump menyisipkan narasi spekulatif terkait 9/11. Pada November 2015, ia mengklaim melihat “ribuan orang” di Jersey City bersorak saat gedung WTC runtuh—klaim yang tidak pernah terbukti kebenarannya.
Sejumlah figur di lingkaran dekat Trump juga menyuarakan narasi serupa. mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene sempat mempertanyakan apakah ada pesawat yang benar-benar menghantam Pentagon, meski belakangan ia menarik pernyataan tersebut. Laura Loomer, aktivis kanan ekstrem dan sekutu Trump, turut membagikan video yang menyebut 9/11 sebagai “perbuatan orang dalam” (inside job).
Tucker Carlson, salah satu penyiar berpengaruh di kalangan kanan Amerika, berulang kali mempertanyakan narasi resmi runtuhnya WTC. Belakangan, fokus Carlson bergeser pada klaim yang melibatkan Israel.
“Kami akan membuka dokumen rahasia 9/11. Lalu orang-orang di internet berkata bahwa Israel memiliki informasi awal tentang 9/11. Semua itu benar,” ujar Carlson pada Maret lalu.
Argumennya menyatakan bahwa Israel mungkin sengaja menahan informasi guna menyeret AS ke dalam konflik Timur Tengah demi kepentingan geopolitiknya. Meski tidak didukung bukti kuat, klaim ini dimanfaatkan oleh figur-figur politik kanan di tengah merosotnya dukungan publik AS terhadap Israel akibat perang di Gaza dan ketegangan dengan Iran.
“Teori konspirasi kini makin berbahaya karena para pengusungnya bukan lagi kelompok marjinal. Sebagian dari mereka adalah orang-orang paling berkuasa di dunia,” pungkas Drochon. [Caolán Magee]
Sumber: Aljazeera.com






