OPINI

El-Sayed dan Dinamika Politik AS

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

Panggung politik Amerika Serikat kembali menyajikan kejutan yang menarik perhatian dunia. Kemenangan tipis Abdul El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan (primaries) Partai Demokrat untuk kursi Senat di Michigan pada Agustus 2026 bukan sekadar hasil hitung suara biasa. Ini adalah sebuah deklarasi ideologis yang mengguncang status quo partai.

El-Sayed berhasil mengalahkan kandidat moderat Haley Stevens. Kemenangan ini langsung disambut sebagai “kemenangan besar” bagi sayap progresif yang selama ini merasa terpinggirkan oleh mesin politik Demokrat arus utama.

Abdul El-Sayed adalah representasi nyata dari “American Dream” yang kompleks dan kontradiktif. Lahir di Detroit pada 1984 dari ayah imigran Mesir dan ibu kelahiran Amerika, ia dibesarkan di lingkungan pinggiran yang makmur.

Namun, yang membedakannya adalah kecerdasan akademik luar biasa yang mengantarkannya ke puncak pendidikan elite. Ia merupakan lulusan University of Michigan, peraih Beasiswa Rhodes yang meraih doktor di bidang Kesehatan Masyarakat dari Oxford, sekaligus pemegang gelar doktor medis dari Columbia University.

Pemikiran politiknya berada di garda paling kiri. Ia adalah pendukung vokal “Medicare for All“, sebuah usulan kebijakan kesehatan di AS yang bertujuan mengganti seluruh sistem asuransi swasta dengan program jaminan kesehatan tunggal yang dikelola pemerintah federal untuk mencakup semua warga negara secara menyeluruh, tanpa biaya tambahan di titik pelayanan (seperti biaya berobat atau resep obat).

Ia juga seorang pengkritik keras kebijakan Israel yang bahkan berani menyebut negara itu sebagai “rogue state” (negara pembangkang). Selain itu, ia menyerukan pembubaran ICE (lembaga imigrasi AS) dan pajak kekayaan bagi miliarder.

Kehadiran sosok seperti El-Sayed di panggung politik AS menantang narasi lama yang selama ini menggambarkan Islam sebagai agama yang tidak kompatibel dengan nilai-nilai liberal dan demokrasi Amerika. Sebagaimana ditunjukkan oleh Matt A. Barreto dan Karam Dana dalam studi empiris mereka terhadap Muslim Amerika dalam tulisan “The Political Incorporation of Muslims in America: The Role of Religiosity in Islam” (2009), anggapan bahwa Islam bertentangan dengan nilai-nilai Barat justru tidak memiliki dasar bukti yang kuat.

Dengan menggunakan data survei nasional, Barreto dan Dana menemukan bahwa Muslim yang lebih taat beragama justru secara signifikan lebih mendukung partisipasi politik di Amerika. Hal ini bertolak belakang dengan keyakinan populer yang selama ini berkembang.

Temuan ini menegaskan bahwa faktor nonreligius seperti status sosial-ekonomi dan akulturasi (bukan karena ideologi agama) yang lebih berperan dalam menjelaskan keterasingan politik di kalangan Muslim Amerika.

Dari segi relasi dan pengaruh, El-Sayed jelas bukan aktor tunggal. Ia berada di bawah payung pelindung tokoh-tokoh progresif raksasa seperti Bernie Sanders, Alexandria Ocasio-Cortez, dan Elizabeth Warren, yang secara terbuka memberikan dukungan kepadanya.

Kampanyenya yang melibatkan aktivis media sosial seperti Hasan Piker menunjukkan kemampuannya menjangkau generasi muda pemilih internet.

Namun, di sisi lain, ia juga dibayangi kontroversi terkait penerimaan donasi lebih dari 115.000 dolar AS dari individu yang terafiliasi dengan CAIR (Council on American-Islamic Relations). CAIR merupakan organisasi hak-hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat yang kerap dituding sebagai kelompok “ekstremis”.

Bagi para kritikus, hal ini adalah “bukti” hubungan dengan ekstremisme. Namun, bagi pendukungnya, ini adalah bentuk solidaritas komunitas Muslim yang selama ini merasa didiskriminasi.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button