OASE

Bukan ‘Maf‘ul’ tapi ‘Fā‘il’: Pemimpin Perubahan dalam Dakwah

Dalam ilmu nahwu, fā‘il berarti pelaku perbuatan, sementara maf‘ul berarti pihak yang dikenai perbuatan. Tapi dalam kehidupan dakwah, maknanya jauh lebih besar. Sebagaimana dikatakan oleh ulama bahasa: 

الفَرقُ بين الفاعلِ والمفعولِ وُجودُ القَصدِ

 Al-farqu bayna al-fā‘il wal maf‘ūl wujūdul qashdi. 

“Perbedaan antara pelaku dan objek terletak pada adanya niat dan tujuan.”  (lihat Abd al‑Majid al‑Jīlī Ibrāhīm, Ismu al‑Fā‘il fi al‑Qur’ān al‑Karīm, Univ. al‑Imām al‑Mahdī, 2012 [1]) 

Menjadi fā‘il berarti hidup dengan kesadaran dan arah; bukan hanya ikut arus, tapi menentukan arus. Ibarat kapal besar, fā‘il adalah nakhoda yang menavigasi gelombang, sementara maf‘ul hanyalah penumpang yang diam menunggu badai. 

Dakwah Butuh Pelaku, Bukan Penumpang 

Syekh Taqiyuddin an‑Nabhani rahimahullah, pendiri Hizb ut‑Tahrir, pernah menyatakan:  “Gerakan Islam bukanlah kumpulan individu yang statis, melainkan jamaah yang hidup dengan amal dan tujuan. Setiap anggotanya wajib menjadi pelaku aktif dalam menyebarkan risalah Islam dan menghidupkan semangat perjuangan.” 

Ungkapan ini sangat kontekstual. Dakwah tak butuh nama besar, tapi langkah nyata. Ia menuntut pejuang yang yuharriku alummah—menggerakkan umat—bukan yang sekadar berlabel “aktivis dakwah” tapi nihil kontribusi.  Imam Hasan al‑Banna, pendiri Ikhwan al‑Muslimin, menulis pula dalam Risālatut Ta‘līm: 

 يَشْعُرُ الداعِي بِمَسْؤُولِيَّتِهِ 

 Yash‘uru addā‘ī bimas’ūliyyatihī 

 “Ciri dai sejati ialah merasakan tanggung jawab penuh dalam dakwahnya.”  (Hasan al‑Banna, Majmū‘at Rasā’il al‑Imām al‑Syahīd)

Gerak adalah Napas Hati 

Ibnul Qayyim al‑Jauziyyah menegaskan dalam kitab beliau Madarijus Sālikīn: 

الصمت ميتة القلوب، والحركة رئتها 

“Diam adalah kematian hati, dan gerak adalah napasnya.” (Madarijus Sālikīn, Juz I, hal. 354)

Hati ibarat mesin kendaraan; tanpa gerak, ia mati. Maka, diam dalam dakwah bukan tanda tenang, tapi tanda kehilangan ruh perjuangan. Maka bergeraklah wahai kawan!  Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah Subhana Huwa Ta’ala:

“إِنِّي جاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً” 

Inni jā‘ilun fil ardhi khalīfah 

 “Sesungguhnya Aku menjadikan di bumi khalifah.” (QS. Al‑Baqarah: 30) 

Ayat ini menegaskan mandat eksistensial manusia sebagai pelaku (fā‘il) perubahan, bukan objek (maf‘ul) sejarah. 

Rasulullah ﷺ pun memberikan kita sebuah petunjuk terkait hal ini dimana beliau bersabda: 

 “مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ” 

 Man dalla ‘alā khairin falahu mitslu ajri fā‘ilih. 

 “Barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka baginya pahala seperti pelakunya.”  (HR. Muslim no. 1893, Abu Dawud, dan Ahmad)

Hadits ini menjadi dorongan agar setiap Muslim tak berhenti di tataran ikut-ikutan, tapi menjadi penggerak kebaikan yang aktif. 

1 2Laman berikutnya
Back to top button