RESONANSI

Melayani dengan Hati: Pemimpin Hadir untuk Rakyat

Oleh: Imam Nur Suharno*

Pemimpin yang sejati adalah mereka yang hadir untuk melayani, bukan dilayani. Mereka memahami bahwa kekuasaan bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan melayani dengan hati, pemimpin dapat membangun kepercayaan dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Jika semangat para pemimpin di semua tingkatan adalah untuk melayani bukan minta serba dilayani maka akan dapat meningkatkan kesejahteran dan kemakmuran rakyat. Bahkan, bisa terwujud baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Dalam kehidupan bernegara, pemimpin harus hadir dalam upaya memberikan pelayanan bagi masyarakat yang dipimpinnya, terlebih saat terjadi problematika kehidupan. Kepemimpinan itu pada hakikatnya adalah melayani rakyat, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi Saw, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR Ibnu Asakir dan Abu Nu’aim).

Pemimpin adalah pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk melayani rakyat. Karenanya setiap pemimpin harus memiliki kemampuan dalam membangun visi pelayanan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dipimpin.

Kesuksesan seorang pemimpin bukan terletak pada kemampuannya duduk di singgasana kepemimpinan, namun terletak pada kemampuannya duduk di hati rakyat yang dipimpinnya. Hal itu terwujud dalam kemampuannya melayani rakyat yang dipimpinnya.

Sehingga, antara yang memimpin dan yang dipimpin akan saling mencintai karena Allah SWT. Itulah tanda pemimpin yang terbaik (HR Muslim). Salah satu indikator pemimpin yang dicintai oleh rakyat adalah yang dapat mengayomi, melayani, menyayangi, membela, dan tidak berbuat dzalim kepada rakyat.

Dalam hal ini, Nabi Saw bersabda, “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya), karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Agar pemimpin dapat melayani rakyat, paling tidak ada tiga aspek dalam pelayanan. Pertama, melayani dengan hati (al-khidmah bil-qalb). Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam hati, kemudian bergerak ke luar untuk melayani rakyat yang dipimpinnya.

Ciri pemimpin yang mampu melayani dengan hati adalah, tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan rakyat yang dipimpin. Orientasinya bukan kepentingan pribadi dan golongan, tetapi untuk kepentingan publik yang dipimpinnya.

Memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan rakyat yang dipimpin; memiliki perhatian terhadap rakyat yang dipimpin. Perhatian akan kebutuhan, kepentingan, dan harapan; akuntabilitas, penuh tanggungjawab dan dapat diandalkan, perkataan dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Kemudian, mau mendengar setiap kebutuhan dan harapan dari rakyat yang dipimpin; dan mampu mengendalikan ego dan kepentingan pribadi, dengan mengendalikan diri ketika ada tekanan maupun tantangan yang dihadapi, selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.

Kedua, melayani dengan kepala (pikiran) (al-khidmah bil-aql). Hal penting dalam melayani dengan pikiran, yaitu memiliki visi yang jelas; responsive, pemimpin harus senantiasa tanggap dalam setiap persoalan, kebutuhan, dan harapan dari rakyat yang dipimpin; aktif dan proaktif mencari solusi dari permasalahan dan tantangan yang dihadapi; dan performance coach, menjadi pelatih atau pendamping bagi rakyat yang dipimpin.

1 2Laman berikutnya
Back to top button