QUR'AN-HADITS

Larangan Berlaku Bakhil: Tafsir Surat An-Nisa’ ayat 37

Oleh: Murobbin Habib Indrajati*

Dalam ajaran Islam, pembahasan tentang sifat-sifat tercela menempati posisi yang sangat penting karena ia berkaitan langsung dengan kualitas iman dan akhlak seorang manusia. Sifat-sifat tercela tidak hanya merusak kepribadian individu, tetapi juga berdampak luas terhadap keharmonisan sosial, keadilan, dan kemanusiaan.

Al-Qur’an dan Sunnah secara konsisten mengecam perilaku-perilaku seperti kikir, sombong, dengki, dan munafik, karena sifat-sifat tersebut mencerminkan penolakan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan tanggung jawab moral. Oleh sebab itu, mengkaji sifat-sifat tercela menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran etis dan spiritual, agar manusia mampu membersihkan jiwanya dan mewujudkan kehidupan yang berlandaskan akhlak mulia.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًاۚ

“(Yaitu) orang-orang yang kikir, menyuruh orang (lain) berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’: 37)

Ath-Thabari dalam “Jami’ Al-Bayan”, meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan beberapa orang Yahudi yang mendatangi sekelompok kaum Ansar dan menghasut mereka untuk tidak mendermakan hartanya di jalan Allah.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Suatu hari Kardam bin Zaid, sekutu Ka‘b bin Asyraf; Usamah bin Habib, Nafi‘ bin Abi Nafi‘, Bahriy bin ‘Amr, Huyaiy bin Akhthab, dan Rifa‘ah bin Zaid bin at-Tabut mendatangi sekelompok kaum Anshar. Mereka mendatangi sekelompok kaum Anshar dengan mengatakan “Jangan infakkan harta kalian. Kami khawatir kalian akan menjadi fakir karenanya. Kalian tidak boleh tergesa-gesa berinfak. Pertimbangkanlah masak-masak, sebab kalian tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.” demikian kaum Yahudi itu menghasut. Lalu Allah menurunkan firman-Nya untuk menanggapi ucapan mereka.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya, “Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an”, mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang mukmin dan orang-orang kafir yang kikir. dalam ayat ini Allah SWT membedakan antara ancaman yang ditujukan kepada orang-orang yang mukmin yang kikir dan ancaman yang ditujukan kepada orang-orang kafir.

Adapun ancaman bagi kelompok yang pertama, orang kikir adalah mereka itu tidak mendapatkan kecintaan Allah, sedangkan bagi kelompok yang kedua, orang kafir adalah siksa yang menghinakan.

Adapun menurut perkataan Ibnu Abbas yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang yahudi, sebab dalam diri mereka berkumpul sifat sombong, berbangga diri, kikir dengan harta, serta menyembunyikan ayat yang Allah turunkan dalam kitab Taurat dari sifat kenabian nabi Muhammad.

Pendapat lain juga mengatakan, yang dimaksud dalam ayat itu Adalah orang-orang munafik yang mana infak yang mereka keluarkan serta keimanan yang mereka miliki merupakan taqiyyah (kebohongan dan sikap berpura-pura belaka).

Wahbah Az-Zuhaili juga menjelaskan dalam “Tafsir Al-Munir”, bahwa sikap bakhil merupakan sikap yang tercela sehingga Allah mengancam orang yang mempunyai sikap ini dengan ancaman siksa. Maksudnya adalah Kami (Allah) telah menyiapkan untuk orang bakhil dan tidak mau bersyukur satu bentuk siksaan yang menghinakan dan merendahkan mereka.

Azab tersebut merupakan gabungan antara adzab yang menyakitkan dan yang menghinakan, sebagai balasan atas amal perbuatan mereka. Allah menamakan mereka dengan kafiruun karena memang sikap tercela ini adalah sikap orang kafir bukan sikap orang beriman.

Selain dari pada itu, arti asal kata al-kufr adalah menutupi, dan orang yang bakhil adalah orang yang menutup-nutupi nikmat Allah dan tidak mau mensyukurinya, sehingga mereka adalah orang yang kufur terhadap nikmat Allah Swt.

1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button