Menbud Fadli Zon Jadi Profesor Kehormatan di Unas
Jakarta (SI Online) – Menteri Kebudayaan Fadli Zon dikukuhkan sebagai Guru Besar Kehormatan di Universitas Nasional (Unas) Jakarta dalam Sidang Terbuka Senat Unas. Fadli diberi gelar Profesor Bidang Keilmuan Politik dan Kebudayaan.
Pengukuhan gelar itu dilakukan di Auditorium Universitas Nasional, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026). Fadli menyampaikan orasi ilmiah dengan tema “Politik Kebudayaan Mega-Diversity: Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Dunia.”
“Sebuah kehormatan bagi saya mendapatkan gelar profesor kehormatan dari Universitas Nasional (Unas). Semoga bisa memberikan konstribusi bagi pengetahuan dan pemajuan kebudayaan,” ungkap Fadli melalui akun X, dikutip Kamis (12/02/2026).
Rektor Unas El Amry Bermawi Putera mengungkapkan, Fadli Zon layak diberikan gelar Profesor Kehormatan atas pemikiran dan kontribusinya yang selaras dengan pemikiran salah satu pendiri Unas yaitu Sutan Takdir Alisjahbana (STA).
“Unas melihat keselarasan yang kuat dengan pandangan perjuangan Fadli Zon,” kata dia dalam Sidang Terbuka dan Pemberian Gelar Profesor Kehormatan Unas di Kampus Unas, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Februari 2026 dipantau YouTube Kementerian Kebudayaan.
Menurut El Amry, penyelenggaraan sidang pengukuhan ini memiliki makna historis dan kultural karena bertepatan dengan hari lahir Sultan Takdir Alisjahbana (STA). STA adalah tokoh besar pemikiran kebudayaan sekaligus sumber inspirasi intelektual.
“Momentum ini menjadi penghormatan bahwa warisan gagasan STA akan terus hidup dalam perjuangan kebudayaan yang kini juga diperjuangkan Fadli Zon,” ujar dia.
Unas, kata dia, tidak dapat dipisahkan dari kiprah STA yang menempatkan kebudayaan sebagai daya cipta, bukan sekadar warisan masa lalu. Indonesia memiliki tanggung jawab peradaban untuk berdialog dengan dunia dan memadukan budaya lokal dengan dinamika global. Budaya harus menjadi energi kemajuan.
“Gagasan ini menjadi roh Unas bahwa keterbukaan terhadap kemajuan serta keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan budaya tidak terpisahkan dalam membangun masa depan bangsa,” kata dia.
Unas melihat keselarasan antara pandangan STA dengan perjuangan Fadli Zon. Fadli dianggap konsisten dalam diplomasi kebudayaan, pelestarian sejarah, sastra, dan identitas nasional.
Dia melihat Waketum Partai Gerindra itu memiliki keyakinan yang sama bahwa budaya merupakan kekuatan strategis bangsa. Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan kekayaan budaya, tetapi sebagai simbol peradaban global.
“Tempat nilai, gagasan, dan kreativitas bertemu serta memberi kontribusi bagi dunia,” kata dia.






