Hubungan Dekat Pak Natsir dengan Ikhwanul Muslimin
Sahabat dekat saya, sebut saja SS, bercerita. Suatu saat ia menemui salah satu tokoh Islam yang menggerakkan dakwah di ITB, Dr Imaduddin Abdurrahim. Bang Imad -penggilan akrabnya- berkisah. Suatu hari ia disuruh Pak Natsir untuk pergi ke Damaskus, Suriah untuk menemui tokoh Ikhwanul Muslimin di sana, Fathi Yakan.
Di depan Bang Imad, Pak Natsir kemudian menulis dalam sebuah kertas. Kertas itu diberikannya kepada Bang Imad. Bang Imad penasaran, apa yang ditulis Pak Natsir di kertas itu? Di tengah perjalanan, ia buka kertas putih itu. Tulisannya ternyata hanya Mohammad Natsir dalam huruf Arab.
Sampai di Suriah, Bang Imad disambut dengan karpet merah dan disambut meriah tokoh-tokoh Ikhwan di sana.
Fathi Yakan adalah salah satu tokoh Ikhwan yang bukunya cukup banyak diterjemahkan di tanah air.
Bila kita teliti, maka di masa Pak Natsir lah buku-buku Ikhwan diterjemahkan besar-besaran. Kabarnya, lebih dari 50 buku yang ditulis tokoh Ikhwanul Muslimin diterjemahkan saat itu.
Kecerdasan, kepiawaian dan akhlak mulia Pak Natsir bisa dikatakan banyak dipengaruhi oleh ulama-ulama Ikhwan. Pak Natsir sering membaca tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya ulama besar Ikhwan, Sayid Qutb.
Dan kalau kita pelajari biografi ulama-ulama Ikhwan ini banyak yang mengagumkan. Mereka mendalam pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menggabungkan antara jiwa yang suci dan akal yang cerdas. Menggabungkan antara kecerdasan dan keberanian.
Ketika saya membaca buku ceramah-ceramah Hasan al Bana, terus terang saya terkagum-kagum. Ceramah Hasan al Bana, itu menyatukan sejarah, tatsir Al- Qur’an, hadits dan realitas. Maka tidak heran, bila Hasan al Bana ceramah, ribuan orang yang hadir. Bukan hanya rakyat Mesir yang awam, tapi juga para ulamanya ikut hadir.
Tapi Hasan al Bana bukan hanya pandai ceramah. Ia adalah seorang yang mempunyai bakat kepemimpinan sejak kecil. Ia tumbuh dalam pendidikan Islam oleh orang tua dan lingkungannya.
Ketika remaja ia sudah membentuk ‘gerakan amar makruf nahi mungkar’ dengan kawan-kawannya. Sekitar sepuluh tahun sudah hafal Al-Qur’an.
Kepemimpinan dan kealimannya nampak ketika berumur 29 tahun. Pada tahun 1928 ia bersama sahabat-sahabatnya, membentuk gerakan Ikhwanul Muslimin. Sebuah pilihan nama yang hebat. Ia tidak membentuk Ikhwanul Mishriyin tapi Ikhwanul Muslimin. Ia ingin menyatukan umat Islam. Ia ingin mempersaudarakan kaum Muslimin, bukan hanya di tanah airnya tapi di seluruh dunia.
Dengan kecermelangan otaknya, kemampuan manajemennya dan akhlak mulianya, Ikhwan saat itu berkembang pesat di Mesir. Tidak ada satu organisasipun di sana yang bisa menyaingi Ikhwan saat itu. Aktivitas pikiran, jiwa dan tubuh disatukan dalam semangat Qur’ani. Aktivitas dakwah, politik, pendidikan, sosial dan lain-lain menyatu dalam diri sang Imam.






