#Piala Dunia 2026OPINI

Bagaimana Pertandingan Mesir–Argentina Berubah Menjadi Referendum tentang Palestina

Keputusan-keputusan yang diperdebatkan dan bendera-bendera yang saling berhadapan menunjukkan bagaimana Palestina kini membentuk perdebatan tentang kekuasaan dan keadilan dalam olahraga.

Oleh: Mohamad Elmasry, Profesor Program Studi Media di Doha Institute for Graduate Studies.

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia FIFA antara Mesir dan Argentina di Atlanta pada Selasa lalu mungkin merupakan pertandingan paling kontroversial dalam turnamen ini. Laga tersebut sekaligus menjadi pertandingan yang paling berdampak secara politik.

Setelah unggul 1-0 atas juara bertahan, gol kedua Mesir dianulir secara kontroversial. Sementara itu, permintaan mereka untuk melakukan tinjauan video terhadap gol Argentina ditolak.

Para penggemar dan pengamat mengeluhkan bahwa teknologi Video Assistant Referee (VAR) digunakan secara tidak konsisten. Kekalahan Mesir 3-2 pun dianggap tidak adil.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, mengatakan pertandingan itu tidak adil. Ia menyiratkan bahwa FIFA menginginkan Argentina serta bintang globalnya, Lionel Messi, melaju lebih jauh dalam turnamen.

Asosiasi Sepak Bola Mesir bahkan mengajukan keluhan resmi pada hari Rabu. Namun, di balik akhir pertandingan yang kontroversial itu, ada kisah yang mungkin jauh lebih besar. Laga Mesir–Argentina berubah menjadi penanda terbaru dari perjuangan Palestina.

Semakin sering, sikap terhadap Israel dan Palestina dipandang sebagai ukuran integritas politik dan moral. Isu Palestina kini muncul sebagai garis pemisah politik yang nyata dalam dunia olahraga.

Mungkin tidak ada contoh yang lebih jelas dalam ingatan olahraga modern selain pertandingan Mesir–Argentina ini.

Palestina Hadir Sebelum Pertandingan Dimulai

Menjelang pertandingan, Hossam Hassan menggunakan platformnya untuk menyoroti penderitaan rakyat Palestina.

Setelah kemenangan pertama Mesir di fase gugur Piala Dunia pada 3 Juli, Hassan mengibarkan bendera Palestina di lapangan. Ia kemudian mendedikasikan kemenangan tersebut untuk Palestina dalam konferensi pers pascapertandingan.

Pada konferensi pers sehari sebelum laga melawan Argentina, ia kembali menyampaikan pidato emosional tentang penderitaan rakyat Palestina.

“Siapa pun yang tidak merasakan belas kasih terhadap rakyat Palestina, bukanlah manusia,” kata Hassan.

Politik Israel–Palestina juga merembes ke dalam pengalaman para penonton. Di Gaza, warga Palestina mengibarkan bendera Mesir dan mendukung tim Mesir. Sementara itu, di dalam stadion, suporter Mesir dan Argentina saling berbalas simbol politik.

Sebagian pendukung Argentina mengangkat bendera Israel. Di sisi lain, pendukung Mesir mengibarkan bendera Palestina.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button