NUIM HIDAYAT

Hubungan Dekat Pak Natsir dengan Ikhwanul Muslimin

Ia seorang mujahid dan mujtahid. Sehingga ketika Israel melakukan agresi dan kebiadaban di Palestina, ia pun mengirimkan pasukannya ke sana.

Pemerintah Mesir yang zalim saat itu marah. Entah apakah karena lobi Israel dan Amerika (perlu diteliti), Raja Faruk ingin membunuh Hasan al Bana. Mungkin juga karena sifat dengki sang Raja melihat Hasan al Bana lebih populer di rakyat Mesir dari pada dirinya. Maka tahun 1949, ketika sang Imam duduk di mobil, mobilya diberondong oleh pasukannya sehingga sang Imam akhirnya wafat mati syahid.

Ia syahid dalam usia muda, 43 tahun (1906-1949). Ia adalah syahid yang hidup. Karena sepeninggalnya, Ikhwanul Muslimin sekarang berkembang pemikirannya lebih di 100 negara. Meski ada beberapa pemimpin zalim yang melarang Ikhwan berkembang, tapi Ikhwan tetap berkembang di negara-negara itu.

Ideologi tidak bisa dilarang. Apalagi ideologi Islam. Ulama atau cendekiawan Islam yang jiwanya bersih akan selalu memperjuangaknnya, meskipun penjara atau nyawa taruhannya.

Ikhwanul Muslimin yang mendidik kader-kadernya menjadi cerdas, berani dan berakhlak mulia akan terus mewarnai dunia. Karena Ikhwan berpegang teguh pada Al- Qur’an. Ikhwan yakin, sebagaimana perkataan Sayidina Ali bahwa Islam itu mengatasi zaman. Islam itu adalah risalah suci yang dibawa oleh Rasulullah saw sang teladan. Manusia teladan, sebaik-baik makhluk yang diciptakan Allah di muka bumi ini.

Sekali lagi hanya pemimpin-pemimpin zalim yang tidak suka Ikhwan. Pemimpin yang bergelimang dalam dosa besar dan kemusyrikan yang benci kepada Ikhwan.

Baca juga:

Membidik Sayid Qutb

Ketika The Great Satan dan Rezim Otoriter Melarang Ikhwanul Muslimin

Wallahu azizun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button