IBADAH

Shalat dalam Kendaraan, Hadap Kemana?

Shalat adalah tiang agama. Hal ini bermakna indikator utama muslim menegakkan Islam adalah menunaikan kewajiban shalat lima waktu.

Karena dirinya memahami shalat adalah amal pertama yang dihisab Allah Swt pada hari pertanggungjawaban di akhirat.

Apabila hisab shalatnya baik di sisi Allah Swt, dirinya akan beruntung dan berhasil di akhirat. Sebaliknya apabila hisab shalatnya rusak, dirinya akan gagal dan rugi di akhirat.

Tak ada alasan apapun bagi muslim mukallaf untuk meninggalkan shalat. Termasuk dalam keadaan safar (perjalanan) baik dengan kendaraan pribadi maupun umum.

Yang kerap menjadi masalah, saat berada dalam kendaraan umum (bus, kereta api, kapal laut, pesawat), shalat tak bisa menghadap kiblat karena tubuh mengikuti arah kendaraan umum melaju. Bagaimana hukum shalat demikian?    

Makna Menghadap Kiblat

Salah satu syarat sah shalat adalah menghadap kiblat. Hal ini harus terpenuhi sebelum shalat dimulai hingga shalat selesai. Jika tak terpenuhi, shalatnya dianggap tak sah (tak bernilai penunaian di sisi Allah Swt). Sesuai dengan firman Allah Swt:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ

“Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. (QS. Al Baqarah ayat 144).

Yang dimaksud dengan menghadap arah kiblat adalah menghadap a’inu al qiblati (fisik kiblat). Berupa bumi tempat Ka’bah berada (Masjidil Haram). Saat shalat berdiri atau duduk, tubuh yang menghadap kiblat adalah bagian dada.

Saat shalat berbaring atau telentang (karena sakit) tubuh yang menghadap kiblat adalah bagian wajah, tubuh bagian depan, lekukan telapak kaki. Dengan wajib meninggikan sedikit bagian kepala.

Sebelum shalat muslim harus mengetahui arah kiblat. Tingkatan mengetahui arah kiblat ada empat.

Pertama melihat secara langsung Ka’bah. Ini berlaku bagi orang yang berada di sekitar Masjidil Haram. Kedua mendapat kabar dari orang terpercaya yang sudah melihat secara langsung Ka’bah. Ini berlaku bagi orang yang berada di luar Masjidil Haram yang tak dapat melihat langsung Ka’bah.

Semakna dari kabar terpercaya adalah semisal menggunakan kompas dalam menentukan arah kiblat. Ketiga ijtihad menggunakan petunjuk-petunjuk yang ada (posisi rasi bintang, bayangan matahari, arah matahari terbenam). Ini berlaku bagi orang yang berada di luar tanah suci Mekah atau bahkan di luar Arab Saudi. Keempat, taqlid (mengikuti) pada orang yang berijtihad.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button