Isra Mikraj: Hadiah di Balik Fase Sulit Rasulullah Saw
Isra Mikraj menjadi peristiwa penting yang harus kita pahami bersama. Isra berasal dari kata sara yang berarti “perjalanan” di malam hari dan Mi’raj berarti “kendaraan”, “tangga”, atau “alat” untuk naik. Sehingga Isra Mikraj ini sering diartikan perjalanan malam hari dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), dan Mi’raj berarti kenaikan dari Masjidil Aqsa ke langit ke tujuh hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Sebelum jauh membahas bagaimana kronologis perjalanan Rasulullah sampai ke Sidratul muntaha, kita perlu mengulik kembali apa yang menjadi penyebab terjadinya Isra Mikraj. Ternyata, ada beberapa peristiwa penting yang harus kita pahami sebelum terjadinya Isra Mikraj, yaitu Rasulullah mengalami fase terberat dalam hidup.
Berawal dari pemboikotan oleh kafir Quraisy. Pemboikotan ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Pemboikotan terjadi karena kaum kafir Quraisy tidak berhasil menghentikan dakwah Nabi Muhammad Saw melalui cara-cara lain, termasuk membujuk pamannya, Abu Thalib, untuk menghentikan perlindungannya terhadap Nabi. Abu Thalib menolak untuk menyerahkan keponakannya, sehingga kaum Quraisy memutuskan untuk melakukan tekanan sosial dan ekonomi secara menyeluruh.
Kondisi ini tentu menjadi ujian berat Rasulullah dalam menjalankan dakwah. Tidak hanya itu, setelah pemboikotan, Istri tercinta Khadijah meninggal dunia. Orang pertama yang mempercayai Kerasulan Muhammad. Orang yang mengorbankan harta untuk menegakkan kalimah Allah. Penenang hati dan obat bagi jiwa Rasulullah. Kesedihan belum selesai sampai di sini pada tahun yang sama yaitu tahun ke-10 setelah nabi diangkat jadi Rasul, Paman yang merupakan pembela, pelindung menghadapi kafir Quraisy, sosok pengganti ayah dalam hidup Rasulullah telah meninggalkannya untuk selamanya.
Fase yang sangat berat bagi Rasulullah, dalam waktu yang begitu runtun, Rasulullah kehilangan dua sosok yang sangat berperan dalam mengemban Risalah.
Lalu apa yang Rasulullah lakukan?
Yaitu, hijrah ke Thaif. Ini menjadi alternatif dakwah karena terjadinya ‘Amul Huzni (tahun kesedihan). Ketika Mekkah mencekik, Rasulullah pun berjalan bersama Zaid bin Haritsah untuk menyebarkan dakwah di Thaif. Apakah ini menjadi obat bagi Rasulullah? Ternyata tidak.
Rasulullah malah mendapat cacian, dilempari batu sampai darah keluar dari tubuh Rasulullah. Pulang dari Thaif, Rasulullah kembali ke Mekkah. Apa yang terjadi? Allah memberikan dua spirit ruhani untuk Rasulullah yaitu berimannya golongan jin dan berlangsung nya Isra’ Mi’raj.
Lalu, apa saja persiapan sebelum Rasullah melaksanakan Isra’ Mi’raj?
Malaikat Jibril, Mikail dan ada yang mengatakan Malaikat Israfil menemui Rasulullah untuk melakukan pembelahan dada dan disucikannya dengan air zam-zam. Tujuannya agar Rasulullah menjalani Isra’ Mi’raj dan menghadap Allah penuh ketabahan dan selalu siap berkorban untuk-Nya. Setelah itu, Malaikat mengirimkan kendaraan yaitu Buraq yang dibawa dari surga sebagai kendaraan Rasulullah saat Isra Mikraj.
Perjalanan yang sangat singkat pun terlewati yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu ke Sidratul Muntaha. Tujuh langit telah dilewati Rasulullah yang telah dijaga Nabi Adam, Nabi Yahya dan Nabi Isa, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan sampailah di Sidratul Muntaha. Rasulullah membawa hadiah perintah shalat dari Allah untuk dilaksanakan semua ummatnya dengan proses begitu panjang mulai dari 50 kali perintah shalat sampai menembus lima kali shalat setiap harinya.
Shalat menjadi hadiah terindah untuk mengobati kesediaan Rasulullah. Kenapa shalat? Karena Ibadah ini merupakan bentuk penghambaan tertinggi yang menunjukkan ketaatan dan kepasrahan hamba kepada Tuhannya.
Ini menjadi pelajaran bagi kita di setiap ujian berat yang kita lewati, Allah begitu sayang kepada hambanya dan memberikan solusi yang indah pada waktunya.[]
Tri Pujiati






