SAKINAH

Generasi Muda Selektif, ‘Frugal Living’ Bukan Sekadar Tren Sesaat

Jakarta (SI Online) – Antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menilai fenomena frugal living atau gaya hidup hemat berpotensi bertahan dalam jangka panjang seiring meningkatnya kesadaran finansial dan pola konsumsi selektif di kalangan generasi muda.

Meskipun demikian, Semiarto berpendapat bahwa tren hidup hemat saat ini memang dapat berubah mengikuti perkembangan gaya hidup serta estetika yang bergerak sangat cepat.

“Kalau sekarang ini mungkin tren aja ya, jangka pendek. Karena kita lagi di dalam dunia yang cepat sekali perubahannya,” ujar Semiarto pada Jumat (08/05/2026), dilansir dari ANTARA.

Baca juga: Tren ‘Frugal Living’: Bukan Pelit, Tapi Disiplin Diri

Namun, ia menegaskan bahwa prinsip hidup hemat dan konsumsi yang lebih rasional kemungkinan besar akan tetap bertahan karena generasi muda semakin menyadari pentingnya pengelolaan keuangan.

“Kesadaran finansial kita kan makin tinggi. Kesadaran untuk menabung, untuk budgeting,” tegasnya.

Fenomena tersebut dipengaruhi oleh pola kerja berbasis gig economy yang mengakibatkan pendapatan generasi muda cenderung tidak stabil setiap waktunya.

“Kita hidup di dalam konteks ekonomi yang berbasis gigs. Ada kalanya punya uang cukup banyak, tapi ada kalanya kosong,” jelasnya lebih lanjut.

Oleh karena itu, generasi muda saat ini dipaksa lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran dengan lebih mengutamakan pengalaman dibandingkan sekadar kepemilikan aset.

“Prioritas sekarang memang bukan pada kepemilikan, tapi pada pengalaman dan well-being,” tambah Semiarto.

Ia juga menilai bahwa kebutuhan akan kenyamanan kini semakin fleksibel berkat adanya berbagai layanan yang memungkinkan masyarakat menikmati fasilitas tertentu tanpa harus memilikinya secara permanen.

“Kita bisa tinggal di apartemen atau sewa. Pilih kendaraan online premium tanpa harus beli mobil premium,” katanya memberikan contoh konkret.

Menurut Semiarto, aspek yang berpotensi berubah lebih cepat hanyalah frugal living yang dipandang sebagai tren estetika semata, seperti gaya berpakaian atau tampilan visual yang minimalis.

“Yang mungkin berubah cepat adalah frugal living sebagai tren estetika,” ungkapnya.

Kendati demikian, prinsip efisiensi dan konsumsi selektif diprediksi tetap kokoh karena masyarakat urban dituntut untuk semakin adaptif terhadap tekanan ekonomi di perkotaan.

“Praktik efisiensi ini kayaknya masih akan tetap tinggi karena faktor-faktor struktural tadi,” pungkas Semiarto.[]

BACA JUGA
Close
Back to top button