Refleksi Kemerdekaan: Merdeka Akhlak, Menjaga Fitrah Generasi
Oleh: Imam Nur Suharno, Pendidik di Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.
Pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia merdeka. Kini, 17 Agustus 2026, di usia kemerdekaan ke-81, muncul pertanyaan: Apakah kita juga sudah merdeka secara akhlak dan fitrah?
Kemerdekaan tidak hanya diukur dari bendera yang berkibar dan lomba yang meriah. Kemerdekaan sejati adalah ketika sebuah bangsa mampu menjaga jati dirinya.
Hal ini mencakup menjaga nilai, menjaga akhlak, menjaga keluarga, dan menjaga generasi.
Dulu penjajah datang membawa senjata dan meriam. Hari ini, penjajahan datang lewat genggaman tangan: media sosial, film, dan pergaulan tanpa batas. Salah satu arus besar yang perlu kita sikapi dengan tegas dan bijak adalah fenomena LGBT.
Sikap waspada di sini bukan berarti membenci manusianya. Waspada artinya kita sadar bahwa ada paham dan propaganda yang perlahan menggeser fitrah manusia.
Propaganda tersebut berusaha menggeser tatanan yang sejak awal dibangun: laki-laki dan perempuan untuk membangun keluarga sakinah.
Jika fondasi keluarga retak, tembok bangsa tentu akan rapuh. Oleh karena itu, ada tiga alasan mengapa kita harus waspada dan melakukan langkah nyata guna membentengi generasi dari propaganda LGBT.
Pertama, menjaga fitrah bangsa. Indonesia dibangun di atas nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kekeluargaan.
Fitrah laki-laki dan perempuan merupakan fondasi peradaban. Menyimpang dari fitrah berarti merusak generasi dan masa depan.
Kedua, melindungi Generasi Emas 2045. Anak dan remaja kita sedang mencari jati diri. Di usia inilah mereka paling rentan.
Tanpa filter agama, adab, dan pengawasan, mereka bisa salah arah karena terpapar konten yang menormalisasi penyimpangan. Padahal, merekalah yang akan mengisi 100 tahun Indonesia Merdeka.
Ketiga, menjaga kesehatan dan tatanan sosial. Banyak data medis dan sosial yang mencatat dampak dari perilaku menyimpang.
Namun lebih dari itu, rusaknya akhlak akan merusak tatanan masyarakat. Allah mengingatkan kita lewat kisah kaum Nabi Luth alaihissalam:
“Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia?” (QS. Al-A’raf: 80-81).






