Maut di Balik Tren ‘Freestyle’, Tanggung Jawab Siapa?
Dunia pendidikan dan pengasuhan anak di Indonesia kembali berduka akibat sebuah peristiwa memilukan yang terjadi di Lombok Timur.
Dua orang anak yang masih duduk di bangku TK dan SD harus kehilangan nyawa akibat cedera leher yang fatal.
Tragedi ini terjadi setelah mereka mencoba meniru aksi freestyle yang tengah viral di media sosial dan platform gim daring (online).
Kematian tragis ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan sebuah manifestasi dari bahaya laten konten digital yang tidak tersaring.
Aksi tersebut diduga kuat terinspirasi dari gerakan ekstrem dalam gim populer seperti Free Fire.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh visual digital dalam membentuk perilaku anak-anak di dunia nyata.
Merespons kejadian ini, berbagai pihak mulai dari kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, hingga KPAI telah mengeluarkan imbauan keras.
Para orang tua didesak untuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gawai (gadget) dan konsumsi media sosial anak-anak.
Namun, imbauan saja tentu tidak cukup tanpa pemahaman mendalam mengenai akar permasalahannya.
Secara psikologis, nalar anak-anak pada usia tersebut memang belum tumbuh secara sempurna.
Mereka berada pada fase imitasi, yakni kecenderungan meniru apa yang dianggap menarik atau keren sangatlah tinggi.
Tanpa kemampuan kognitif untuk membedakan antara fiksi yang berbahaya dan realitas yang aman, mereka menjadi sangat rentan.






