#Bebaskan PalestinaRESONANSI

Bagaimana David Ben-Gurion Salah Memahami Palestina pada 1948?

Persoalan Palestina tidak pernah hilang meskipun Israel telah melakukan upaya terbaik dan kekerasan terburuknya.

Oleh: Refaat Ibrahim, Penulis Palestina dari Gaza

Ketika para pemukim Yahudi Eropa memulai pembersihan etnis yang brutal untuk mendirikan Israel pada tahun 1948, mereka mengira bahwa penduduk Palestina akan menjadi masalah yang paling kecil.

Bahkan, para pemimpin Zionis seperti David Ben-Gurion percaya bahwa “masalah pengungsi akan terselesaikan dengan sendirinya”.

Ada keyakinan mendalam di kalangan Zionis bahwa rakyat Palestina tidak memiliki identitas yang kuat, sehingga mereka hanya akan melarikan diri ke negara-negara Arab tetangga dan berasimilasi.

Mereka dianggap tidak akan pernah kembali untuk menuntut tanah leluhur mereka yang telah dirampas secara paksa.

Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Dari dekade ke dekade, perjuangan nasional rakyat Palestina justru semakin kuat dan mengakar.

Saat ini, hanya sedikit penyintas Nakba (Tragedi) 1948 yang masih hidup, tetapi komitmen nasional terhadap hak-hak Palestina dan keadilan sejarah tetap sekuat sebelumnya.

Hal itu terjadi karena generasi tua tidak mengajarkan generasi muda untuk melupakan trauma dan melanjutkan hidup begitu saja, melainkan mengajarkan untuk mengingat dan menjaga kunci rumah leluhur mereka tetap hidup dalam ingatan.

“Masalah pengungsi” tidak “terselesaikan dengan sendirinya”, bukan hanya karena tekad dan ketahanan rakyat Palestina, tetapi juga karena kebijakan kekerasan dan perampasan Israel justru menjadi bumerang.

Pencurian tanah dan sumber daya oleh Israel serta pengusiran paksa warga Palestina menjadi titik awal bagi setiap generasi Palestina untuk menolak dan melawan pendudukan.

Saat Israel berhasil merebut semakin banyak wilayah Palestina, mereka gagal total dalam mengendalikan kesadaran kolektif rakyat Palestina.

Meskipun Israel terus berupaya menjadikan kamp-kamp pengungsi sebagai enclave (kantong wilayah) terisolasi, merekrut agen untuk merusak persatuan, serta melibatkan lembaga internasional guna mendefinisikan ulang isu pengungsi hanya sebagai persoalan kemanusiaan, mereka tetap gagal menghancurkan perjuangan nasional Palestina.

Para pengungsi Palestina yang dirampas haknya dan dilecehkan justru menjadi pembawa gagasan perlawanan yang paling gigih.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button