FINANSIAL

Pandangan Islam tentang Jasa Pembayaran Kartu Kredit Online

Beberapa tahun lalu, pembahasan soal “jasa pembayaran kartu kredit online” mungkin belum terlalu ramai. Sekarang beda cerita. Dunia kerja makin digital, kebutuhan transaksi internasional makin banyak, dan hampir semua layanan modern rasanya minta pembayaran pakai kartu.

Mau beli domain? Pakai kartu.

Langganan tools desain? Pakai kartu.

Bayar cloud server? Pakai kartu.

Bahkan kadang cuma mau subscribe aplikasi kerja bulanan saja, tetap ujungnya diminta Visa atau Mastercard.

Masalahnya, tidak semua orang punya akses ke sana. Ada yang memang belum memenuhi syarat bikin kartu kredit. Ada juga yang sengaja menghindari kartu kredit karena takut terjebak riba. Akhirnya muncullah jasa pembayaran online yang menawarkan bantuan transaksi.

Kalau dipikir sekilas, layanan seperti ini terlihat sederhana. Ada orang membantu membayarkan kebutuhan digital, lalu mendapat fee jasa. Selesai.

Tapi ketika dibawa ke pembahasan Islam, pertanyaannya mulai lebih dalam.

Apakah jasa seperti ini halal?

Apakah termasuk membantu transaksi ribawi?

Kalau yang dipakai kartu kredit konvensional bagaimana?

Kalau ada fee jasa apakah masuk riba?

Yang menarik, ternyata jawabannya tidak sesederhana “boleh” atau “haram”. Di lapangan, praktiknya bermacam-macam. Ada yang memang murni jasa bantuan pembayaran, ada juga yang ujungnya berubah jadi utang berbunga dengan nama yang dibikin lebih halus.

Dan di sinilah pentingnya memahami masalah ini dengan kepala dingin, bukan cuma melihat istilah “kartu kredit” lalu langsung menganggap semuanya sama.

Kenapa Banyak Muslim Masih Ragu dengan Kartu Kredit?

Kalau ngobrol dengan orang tua, ustaz, atau teman yang cukup hati-hati soal keuangan, biasanya kata “kartu kredit” langsung identik dengan riba.

Sebenarnya wajar.

Karena sistem kartu kredit konvensional memang sejak awal sangat dekat dengan bunga. Apalagi kalau pengguna terlambat membayar tagihan. Tambahan bunganya bisa besar, bahkan terus berjalan.

Banyak orang akhirnya masuk lingkaran utang yang susah keluar.

Dalam Islam, tambahan atas utang inilah yang menjadi masalah utama.

Makanya sebagian muslim memilih menjauh total dari kartu kredit. Bahkan ada yang benar-benar tidak mau punya sama sekali karena takut suatu hari tergoda memakai melebihi kemampuan.

Saya pernah ngobrol dengan seorang freelancer desain yang cukup ketat soal urusan riba. Dia bilang begini:

“Awalnya saya bikin kartu kredit cuma buat bayar software kerja. Niatnya aman karena selalu bayar lunas. Tapi lama-lama mental jadi berubah. Ada rasa gampang belanja karena tinggal gesek.”

Kalimat seperti itu sebenarnya cukup menggambarkan kenapa banyak muslim memilih hati-hati.

Karena kadang masalahnya bukan cuma soal bunga, tapi juga soal kebiasaan konsumtif yang ikut terbentuk.

1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button