Ketika Gaza Dibungkam, Akankah Kita Ikut Diam?
Belakangan ini, lini masa terasa lebih sepi. Gaza seperti menghilang dari percakapan. Video anak-anak yang kelaparan semakin jarang muncul.
Tangisan ibu yang kehilangan keluarganya tak lagi memenuhi beranda media sosial. Banyak orang mengira tragedi itu telah mereda. Padahal kenyataannya bukan penderitaan yang berhenti, melainkan suara-suara yang selama ini menyampaikannya kepada dunia yang satu per satu dibungkam.
Perang modern tidak hanya berlangsung dengan rudal dan peluru. Ia juga berlangsung melalui penguasaan narasi dan pembungkaman informasi. Ketika saksi dibungkam, kebenaran menjadi kehilangan penyampainya.
Data Committee to Protect Journalists (CPJ) menunjukkan bahwa perang di Gaza telah menjadi periode paling mematikan bagi jurnalis sejak organisasi tersebut mulai melakukan pendataan pada 1992.
Hingga Mei 2026, CPJ mencatat sedikitnya 263 jurnalis dan pekerja media tewas dalam rangkaian konflik ini, dengan mayoritas merupakan jurnalis Palestina di Gaza.
CPJ bahkan menyebut bahwa Israel telah membunuh lebih banyak jurnalis dibandingkan pemerintah mana pun yang pernah mereka dokumentasikan dalam periode konflik modern.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada para ayah yang meninggalkan anak-anaknya demi mengirimkan laporan terakhir.
Ada para ibu yang tetap menyalakan kamera di tengah reruntuhan. Ada para jurnalis yang memilih tetap berada di Gaza ketika mereka tahu setiap siaran bisa menjadi siaran terakhir mereka.
Ironisnya, ketika akses informasi semakin terbatas, perhatian dunia justru ikut melemah. Algoritma media sosial bergerak cepat mengganti tragedi dengan hiburan baru.
Umat marah sesaat, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Kita menangis ketika video beredar, tetapi tertawa kembali ketika tayangan berikutnya muncul.
Di sinilah bahaya terbesar itu berada: bukan ketika kezaliman terjadi, melainkan ketika manusia mulai terbiasa menyaksikannya.
Palestina bukan kehilangan karena kurangnya korban. Palestina kehilangan karena terlalu banyak manusia yang memilih nyaman dalam ketidakpedulian. Pembungkaman informasi perlahan melahirkan kelelahan empati.






