Tolak Gencatan Senjata AS-Iran, Israel Ngeyel Tetap Duduki Lebanon
Jakarta (Suaraislam.id) – Israel akan terus menduduki wilayah di Lebanon dan Suriah meskipun kesepakatan penghentian permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah resmi diumumkan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji akan melanjutkan pendudukan militer tersebut tanpa memedulikan kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai oleh dua kekuatan besar dunia itu.
Komitmen sepihak ini dinilai langsung mengancam stabilitas perdamaian yang sedang diupayakan di kawasan Timur Tengah.
Dalam konferensi pers pada Senin (15/6/2026), Netanyahu menyatakan bahwa pasukan Israel akan tetap bertahan di zona penyangga keamanan Lebanon selatan selama diperlukan.
Di wilayah tersebut, entitas Zionis saat ini menduduki sekitar 570 kilometer persegi wilayah setelah konflik berdarah dengan Hizbullah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Menurut rincian yang belum dikonfirmasi, Lebanon sebenarnya masuk dalam klausul kesepakatan yang dijadwalkan akan ditandatangani oleh Iran dan AS pada Jumat mendatang.
Pernyataan provokatif Netanyahu ini diperkirakan akan menambah tekanan baru terhadap perjanjian gencatan senjata yang kondisinya sudah sangat rapuh.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan kesepakatan itu pada Ahad (14/6), menyebutkan bahwa nota kesepahaman tersebut mencakup penghentian segera dan permanen untuk seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.
Israel sendiri telah terlibat perang dengan Hizbullah sejak Oktober 2023, melancarkan serangan lintas batas pada Oktober 2024, hingga berkembang menjadi invasi besar-besaran yang melampaui Sungai Litani.
Meski ditekan secara internasional, Netanyahu bergeming dan menegaskan bahwa Israel akan terus menyerang apa yang disebutnya sebagai tangan-tangan teror Iran.
Pada Ahad (14/6), Israel bahkan sempat melancarkan serangan udara ke pinggiran Beirut yang menewaskan tiga orang warga dan dipandang sebagai pelanggaran nyata terhadap garis merah Iran.
Agresi mendadak itu dilaporkan membuat Presiden AS, Donald Trump, marah besar karena dikhawatirkan dapat mengacaukan proses menuju kesepakatan damai.
Namun meskipun Teheran sempat mengancam akan membalas, nota kesepahaman antara AS dan Iran tetap ditandatangani oleh kedua belah pihak pada Minggu malam.






