Milad ke-50, Majelis Al-Ihya Syukuri Setengah Abad Perjalanan Dakwah
BOGOR (Suaraislam.id) — Setengah abad lalu, sebuah pengajian sederhana digelar setiap hari Ahad dengan jumlah jamaah yang tidak lebih dari 16 orang.
Tidak banyak yang menyangka, majelis kecil yang dirintis almarhum KH Husni Thamrin itu kini tumbuh menjadi salah satu pusat dakwah dan pendidikan Islam yang dikenal luas di Kota Bogor.
Pada Ahad (21/6/2026), Majelis Al-Ihya memperingati milad ke-50 dengan penuh rasa syukur. Ribuan jamaah tampak memadati kompleks Majelis Al-Ihya yang berlokasi di Jl. Aria Surialaga, Pasir Jaya, Kota Bogor.
Suasana peringatan tersebut menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab, beserta ketiga menantunya.
Di hadapan para jamaah, Pimpinan Majelis Al-Ihya KH Chaerul Saleh mengajak seluruh keluarga besar untuk terus menjaga istikamah dalam menuntut ilmu. Ia juga mengimbau jamaah untuk melanjutkan perjuangan dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu.
“Dalam rangka peringatan milad Majelis Al-Ihya yang ke-50, mudah-mudahan kita tetap istikamah belajar, mengaji, mencari ilmu dalam rangka melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. dan melanjutkan cita-cita perjuangan dalam wadah dakwah di Majelis Al-Ihya ini,” ujarnya.
Ulama yang akrab disapa Babah Chaerul itu menuturkan bahwa perjalanan Majelis Al-Ihya tidak dibangun secara instan.
Semuanya berawal dari pengajian kecil yang dilaksanakan setiap hari Ahad. Sedikit demi sedikit jamaah terus bertambah hingga berkembang menjadi madrasah diniyah yang pernah memiliki hampir 2.000 santri dari berbagai jenjang pendidikan.
“Dulu Abi (KH Husni Thamrin) merintis Al-Ihya dari pengajian yang sangat sedikit. Dari sekitar 16 orang pemuda, kemudian berkembang menjadi pengajian yang diikuti begitu banyak orang, dari anak-anak SD, SMP, SMA sampai mahasiswa,” tuturnya.
Perjalanan dakwah tersebut kemudian melahirkan lembaga pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada tahun 1986, didirikan Yayasan Insan Kamil yang menaungi jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Saat ini, jumlah peserta didik di lingkungan Insan Kamil telah mencapai ribuan orang.
“Alhamdulillah murid SD saja hampir 1.500 orang. Belum TK, SMP dan SMA. Dan sekarang sudah ada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah dengan tiga program studi,” kata Babah Chaerul.
Ia berharap lembaga pendidikan yang telah dibangun selama puluhan tahun itu dapat terus berkembang. Babah Chaerul menargetkan suatu saat lembaga ini mampu bertransformasi menjadi Universitas Insan Kamil.





