SANTRI PELAJAR

Memaknai ‘Al-Hayah Hayatuna’: Mengapa Masa Muda Santri Tak Boleh Sia-Sia?

Dalam mengisi liburan Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat, Kepala Divisi Humas dan Dakwah, K.H. Imam Nur Suharno, memanfaatkan kesempatan untuk memberikan pembinaan. Pembinaan tersebut ditujukan bagi para santri Sekolah Menengah Pertama Al-Qur’an (SMPQ) Al-Hayah di Pondok Pesantren Al-Hayah Hayatuna, Pati, Jawa Tengah.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Imam memperdalam makna dari prinsip al-hayah hayatuna. Istilah ini menegaskan bahwa kehidupan sejati adalah hidup yang kita jalani saat ini.

Prinsip al-hayah hayatuna ini sangat krusial bagi para penuntut ilmu, khususnya santri dan pelajar. Masa menuntut ilmu bukanlah sebuah masa tunggu atau sekadar jembatan menuju masa depan.

Inilah al-hayah, yaitu kehidupanmu yang sebenarnya. Tidak ada kehidupan kedua untuk mengulang masa muda yang terbuang sia-sia.

Allah Swt. telah memperingatkan kita tentang agungnya nilai waktu di dalam Al-Qur’an. “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Q.S. al-‘Asr [103]: 1–3).

Terkait surah ini, Imam Asy-Syafi’i dalam kitabnya memberikan penegasan yang sangat mendalam. “Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya kecuali surah ini, niscaya surah ini telah cukup bagi mereka.”

Artinya, kerugian besar akan menimpa jika waktu mudamu di bangku ilmu habis tanpa keimanan, amal saleh, dan ilmu. Oleh karena itu, perintah menuntut ilmu berlaku mengikat sampai mati.

Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah). Beliau juga bersabda dalam riwayat lain: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” (H.R. Al-Baihaqi).

Maknanya, selama hayat masih dikandung badan, selama itulah al-hayah kita harus diisi dengan ilmu. Jangan pernah menunda belajar dengan dalih “nanti setelah lulus” atau “nanti setelah bekerja”.

Banyak keutamaan agung yang dijanjikan bagi para penuntut ilmu. Salah satunya sebagaimana sabda Nabi saw.: “Barang siapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim).

Setiap langkah kakimu menuju pesantren atau majelis ilmu merupakan langkah nyata menuju surga. Oleh karena itu, jangan pernah menganggap remeh setiap detik di dalam majelis.

Mengapa masa muda ini disebut sebagai “Kehidupan”? Hal itu karena tiga nikmat utama berikut hanya ada dan terasa optimal pada saat ini.

Pertama adalah waktu luang untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (H.R. Al-Bukhari).

1 2Laman berikutnya
Back to top button