NUIM HIDAYAT

Genosida Gaza Membuat Banyak Orang Masuk Islam

Kerja sama pemimpin Israel dan Amerika Serikat yang melakukan genosida di Gaza justru membuat masyarakat dunia bersimpati kepada warga Gaza, Palestina. Kondisi tersebut menggerakkan banyak orang untuk memeluk Islam.

Situs web About Islam menulis bahwa kini semakin banyak perempuan dari kalangan Milenial dan Generasi Z (Gen-Z) yang memeluk Islam. Mereka mengaku terinspirasi setelah membaca Al-Qur’an dan menyaksikan kokohnya keimanan rakyat Palestina dalam menghadapi perang di Gaza.

Salah seorang di antaranya adalah Madison Reeves, seorang ibu berusia 24 tahun dari Tampa, Florida. Ia mulai tertarik kepada Islam pada September 2023 setelah berbincang dengan seorang perempuan Muslim melalui sebuah aplikasi pertukaran bahasa.

Pecahnya perang di Gaza serta besarnya skala genosida yang dilakukan terhadap rakyat Palestina semakin menguatkan tekadnya untuk memeluk Islam. Pada 24 Oktober 2024, ia membagikan sebuah video yang memperlihatkan dirinya mengenakan hijab dan merayakan keimanannya yang baru.

“Ini merupakan penyesuaian yang besar,” ujar mantan personel militer Amerika Serikat itu kepada The Free Press. Madison bukanlah satu-satunya orang yang belakangan ini memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

Pada bulan Oktober yang sama, pemengaruh (influencer) TikTok sekaligus penulis asal Amerika, Megan Rice, juga memeluk Islam setelah membaca Al-Qur’an. Perjalanannya menuju Islam dimulai ketika ia membentuk klub buku World Religion yang bertujuan membaca Al-Qur’an di tengah berlangsungnya genosida di Gaza.

Mualaf baru lainnya adalah Alex, seorang kreator TikTok yang menggambarkan dirinya sebagai seorang “leftist queer gremlin” (istilah yang ia gunakan untuk mendeskripsikan identitas dan pandangan politiknya sendiri). Menurut laporan Daily Mail, Alex baru-baru ini membeli sebuah mushaf Al-Qur’an dan mulai menutup rambutnya dengan hijab.

Dalam salah satu videonya, Alex menanggapi kritik dari orang-orang yang mengatakan bahwa ia akan kembali menjalani gaya hidup Barat setelah tren ini berlalu.

“Bagian mana dari gaya hidup Barat yang menurut kalian akan membuat saya kembali?” tanyanya. “Kapitalisme yang tak terkendali? Semua praktik penjajahan itu? Karena saya membenci keduanya.”

Sejumlah pakar berpendapat bahwa bagi banyak orang, keputusan memeluk Islam merupakan bentuk pemberontakan paling puncak terhadap Barat. “Pemberontakan adalah bagian dari masa muda,” kata Lorenzo Vidino, Direktur Program on Extremism di George Washington University, kepada The Free Press. “Pada titik ini, apa yang lebih bersifat memberontak, lebih anti-Barat, lebih anti-kapitalisme, dan lebih anti-kemapanan daripada memeluk Islam?”

Sementara itu, Roohi Tohir dalam artikelnya di Yaqeen Institute menyatakan bahwa di tengah genosida dahsyat yang melanda Gaza, tampak jelas keimanan dan ketangguhan rakyat Palestina. Rakyat Gaza menjalani kehidupan di dunia ini dengan kesadaran bahwa dunia bukanlah segala-galanya dan bukan pula tujuan akhir, sebagaimana diklaim oleh sekularisme modern. Dikhianati dan ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat dunia, mereka menyaksikan kenyataan pahit tentang dunia yang tidak adil—dunia yang menutup mata terhadap penderitaan mereka dan mengabaikan jeritan mereka.

“Namun demikian, mereka tetap teguh. Keimanan mereka tidak dapat dibungkam. Baik tua maupun muda, suara mereka dipenuhi keyakinan bahwa kemenangan sejati diraih dengan mengarahkan rasa takut dan segala keluh kesah hanya kepada Allah Swt., sambil tetap menunjukkan keteguhan melalui penolakan mereka untuk menyerah,“ kata Tohir.

1 2Laman berikutnya
Back to top button