INTERNASIONAL

Khawatir Kalah Pemilu, Trump dan Republik Kembali Serang Demokrat dengan Isu Komunisme

Washington (Suaraislam.id)-Donald Trump dan rekan-rekan Republiknya menghidupkan kembali lini serangan lama terhadap Demokrat menjelang pemilihan sela (midterm elections). Mereka secara terbuka melabeli para pesaing politiknya tersebut sebagai kelompok komunis.

Dalam sepekan terakhir, Trump mengeluarkan peringatan kelam bahwa barisan sayap kiri Partai Demokrat yang sedang bangkit adalah aktivis komunis. Ia menuduh mereka ingin menghancurkan cara hidup tradisional Amerika sepenuhnya dan bahkan terlibat dalam aksi pembunuhan politik.

Wakil Presiden JD Vance juga turut menyuarakan hal senada dengan menyebut kebangkitan komunisme sebagai pergeseran politik yang belum pernah terlihat di AS. Sementara itu, Ketua DPR Mike Johnson mengecam para kandidat radikal yang secara terang-terangan mengidentifikasi diri mereka sebagai Marxis.

Fokus ideologis Partai Republik ini sengaja mencampuradukkan konsep sosialisme demokratis dengan komunisme yang menghapuskan kepemilikan pribadi. Narasi tersebut terus dibangun sejak Zohran Mamdani, seorang sosialis demokratis, memenangkan nominasi Demokrat untuk Wali Kota New York tahun lalu.

Serangan politik ini semakin intensif setelah kelompok sosialis demokratis memenangkan beberapa pemilihan primer kongres di New York City pekan lalu. Kemenangan serupa oleh Melat Kiros di Denver pada hari Selasa mengindikasikan bahwa tren ini mulai meluas ke luar wilayah Manhattan.

“Demokrat membuat hal ini menjadi mudah bagi kami,” ujar perwakilan Republik dari Carolina Utara, Richard Hudson, dalam sebuah wawancara. Ia menilai Demokrat telah mencalonkan kelompok liberal ekstrem dan sayap kiri yang bahkan sudah tidak sejalan dengan arus utama partai mereka sendiri.

Upaya penggiringan opini ini gencar dilakukan saat Republik berjuang keras mempertahankan mayoritas tipis kursi parlemen mereka dalam pemilu sela November mendatang. Strategi ini berisiko mengabaikan frustrasi publik, terutama pemilih muda, terhadap kapitalisme tanpa batas di tengah kesenjangan pendapatan dan lonjakan biaya hidup.

Namun, isu ini memberi Republik peluang besar untuk mengalihkan pembicaraan kembali ke wilayah politik yang membuat mereka merasa lebih nyaman. Pasalnya, partai tersebut menghabiskan sebagian besar tahun ini untuk bertahan dari dampak keputusan Trump yang menyulut perang melawan Iran.

Aktivis konservatif kawakan, Ralph Reed, mengakui bahwa Republik tengah menghadapi tekanan yang sangat berat pada tahun ini. Kendati demikian, rentetan kemenangan kelompok sosialis demokratis dinilai menguntungkan Republik untuk menyajikan kontras antara akal sehat dan kegilaan.

Dorongan baru ini diprediksi dapat memicu ketegangan internal di kubu Demokrat yang sebenarnya disatukan oleh kebencian bersama terhadap Trump. Pemilihan primer tahun ini menjadi ajang pembuktian antara kelompok sentris yang ingin memperbaiki arah partai dengan kelompok sayap kiri yang menuntut perubahan total.

“Banyak dari kemarahan ini telah mendidih di bawah permukaan,” ujar Joseph Geevarghese, Direktur Eksekutif Our Revolution. Gerakan ini didirikan oleh Senator AS Bernie Sanders, seorang independen dari Vermont yang berkoalisi dengan kubu Demokrat.

Sebaliknya, anggota DPR dari kelompok sentris Demokrat New Jersey, Josh Gottheimer, menyebut kemenangan sayap kiri di Colorado dan New York sebagai sebuah penyimpangan.

“Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga partai kita agar tidak dibajak oleh kaum sosialis,” tegasnya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button