Hubungan AS-Israel Mulai Retak, Eks Jurnalis Senior: Pertarungan Jadi Zionis vs Islamis
Jakarta (SuaraIslam.id) – Mantan wartawan senior Kompas, Mustafa Abdurrahman, menyatakan bahwa konstelasi politik di Palestina telah mengalami pergeseran ideologis.
Menurutnya, pertarungan yang terjadi saat ini bukan lagi antara Israel melawan Pan-Arabisme, melainkan pertarungan antara Zionis melawan Islamis.
Hal itu diungkapkan oleh Mustafa dalam diskusi bersama Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid) yang dipandu oleh Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) di AQL Islamic Centre, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat pagi (19/06/2026).
Ia menilai bahwa posisi Israel kini semakin terkucil di panggung internasional. Eropa yang dahulu dikenal sangat pro-Israel, sekarang justru berbalik arah mendukung kemerdekaan negara Palestina.
“Saya yakin nanti negara Palestina akan terwujud,“ kata jurnalis yang telah bertugas puluhan tahun di Timur Tengah tersebut.
Mustafa juga menjelaskan adanya kegagalan strategis berskala besar yang dialami oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam membendung pengaruh Iran.
“Pada akhirnya, hubungan Amerika Serikat dan Israel pun mulai kurang harmonis, bahkan mulai terlihat adanya perpecahan,“ terangnya.
Keretakan ini terlihat saat Presiden Trump sempat memarahi Netanyahu karena terus melakukan agresi militer ke Lebanon.
Mustafa menilai bahwa Israel sebenarnya lebih mengkhawatirkan keberadaan rezim penguasa di Iran daripada kepemilikan senjata nuklir itu sendiri.
“Kalau harus memilih, Israel, antara nuklir sama rezim, antara rezim berubah atau Iran punya nuklir, Israel itu sebetulnya memilih perubahan rezim. Walaupun Iran punya nuklir, tapi rezimnya bersahabat dengan Iran seperti pada zaman Syah Iran, itu mungkin tidak masalah bagi Israel. Yang paling bahaya bagi Israel itu adalah rezim. Walaupun Iran tidak punya nuklir, tapi rezimnya tidak berubah, kemudian semakin berkembang, Israel itu akan takut,“ terangnya.
Menurut alumnus Universitas Al-Azhar Kairo tersebut, ketegangan antara Iran dan Israel tidak akan pernah usai selama rezim mullah masih memegang tampuk kekuasaan.
“Terlepas dia punya senjata nuklir atau tidak. Jadi problemnya adalah di rezim ini,“ jelas pria yang kini menetap di Jakarta itu.






