Khawatir Kalah Pemilu, Trump dan Republik Kembali Serang Demokrat dengan Isu Komunisme
Di sisi lain, Jaksa Agung Nevada, Aaron Ford, berhasil menumbangkan rivalnya yang lebih progresif dalam bursa pencalonan gubernur dari Demokrat. Menghadapi Gubernur petahana dari Republik, Joe Lombardo, ia menegaskan bahwa kandidat seperti di New York tidak mewakili seluruh wajah Demokrat.
Ia menyatakan secara terbuka bahwa kelompok Democratic Socialists of America bukanlah representasi utama dari partai mereka. Sementara itu, Suzan DelBene selaku ketua komite kampanye Demokrat menyebut Republik hanya menggunakan serangan putus asa yang tidak menyentuh isu ekonomi riil masyarakat.
Strategi Trump dan sekutunya terancam meleset karena penerimaan publik terhadap kapitalisme saat ini tidak sekuat beberapa dekade lalu. Berdasarkan jajak pendapat Gallup pada Agustus, hanya sekitar 54% orang dewasa di AS yang memiliki pandangan positif terhadap kapitalisme.
Data menunjukkan hanya 42% warga Demokrat yang memandang kapitalisme secara positif, sementara 66% sisanya justru melihat sosialisme dengan cara yang baik. Pola ini digerakkan oleh pemilih Demokrat di bawah usia 50 tahun yang mulai tidak menyukai sistem kapitalisme murni.
“Pemilih muda yang mendorong energi elektoral saat ini tumbuh secara politik di dunia pasca-Soviet,” kata Geevarghese menjelaskan latar belakang pergeseran tersebut. Menurutnya, serangan isu komunisme usang yang dilancarkan Trump sudah tidak lagi mempan bagi generasi baru saat ini.
Richard Hudson meraih kesimpulan bahwa narasi anti-komunisme ini mungkin tidak akan bergaung dengan cara yang sama pada semua lapisan pemilih. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya bagi Republik untuk menyesuaikan pesan kampanye mereka dengan kebutuhan di setiap distrik.
Meskipun demikian, argumen tersebut tetap menjadi fokus utama pikiran Trump saat mengunjungi Perpustakaan Kepresidenan Theodore Roosevelt di Dakota Utara. Di hadapan publik, ia memuji mantan presiden tersebut sebagai penentang keras dari sebuah hal yang disebut komunisme.
“Ini adalah ancaman terbesar bagi negara kita, termasuk Perang Dunia I, Perang Dunia II, Pearl Harbor, dan 11 September,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa komunisme berpotensi menjadi ancaman yang lebih besar karena sifatnya seperti kanker yang menyebar cepat.
Beverly Gage, seorang profesor sejarah di Universitas Yale, menilai bangkitnya politik anti-komunisme saat ini memiliki pola yang cukup menarik. Ia menyoroti fokus Trump pada isu ini sangat dipengaruhi oleh kedekatannya di masa lalu dengan Roy Cohn, yang pernah bekerja untuk Senator kontroversial Joe McCarthy.[]
Sumber: Associated Press/ABC News






