Jangan Tahan BAB, Bisa Picu Wasir Kronis hingga Gangguan Fungsi Usus Besar
Jakarta (Suaraislam.id) – Menahan keinginan untuk buang air besar (BAB) kerap diabaikan masyarakat, terutama di tengah kesibukan atau saat sulit menemukan kamar mandi. Namun, jika kebiasaan buruk ini terus dilakukan, dampaknya dapat mengganggu fungsi usus secara serius.
Menurut laporan EatingWell pada Minggu, kebiasaan BAB yang sehat merupakan salah satu tanda bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya. Sebaliknya, menunda buang hajat bisa meningkatkan risiko wasir, mengubah konsistensi feses, dan menyebabkan konstipasi.
“Kalau sesekali mengabaikan keinginan BAB biasanya tidak masalah. Tetapi jika menjadi kebiasaan, feses akan berada lebih lama di dalam usus besar,” ujar dokter gastroenterologi dokter Supriya Rao.
Dalam jangka panjang, menahan BAB dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit. Kondisi ini terjadi ketika frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang dan feses cenderung mengeras atau kering.
Normalnya, feses berpindah dari usus besar menuju rektum saat tubuh siap mengeluarkannya. Ketika dorongan BAB diabaikan, feses akan bertahan lebih lama di dalam usus besar.
Ahli gastroenterologi dokter Carmen Fong, FACS mengatakan bahwa usus besar sangat efisien dalam menyerap air. Semakin lama feses berada di sana, semakin banyak air yang diserap sehingga feses menjadi lebih kering dan keras.
Akibatnya, proses buang air besar berikutnya akan terasa lebih sulit dan tidak nyaman bagi tubuh. Hal ini tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Menahannya terlalu sering menyebabkan siklus sembelit. Tubuh mulai mengabaikan sinyal buang air besar sama sekali, yang menyebabkan penumpukan tinja di usus besar,” kata Dr. Carmen Fong, FACS.
Menahan BAB juga dapat memengaruhi fungsi normal rektum. Dokter Rao mengatakan jika terus menahan keinginan tersebut, rektum dapat meregang sehingga sensitivitasnya berkurang.
“Bahkan dalam beberapa kasus dapat memicu menyebabkan bisul pada rektum,” kata Rao.
Rektum memiliki saraf khusus yang berfungsi mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya ke toilet. Proses ini dibantu oleh refleks rectoanal inhibitory reflex (RAIR) yang membuat sfingter anus mengendur sehingga feses dapat masuk ke rektum sebelum dikeluarkan.
Jika dorongan BAB terus diabaikan, sinyal tersebut lama-kelamaan menjadi kurang efektif. Akibatnya, seseorang menjadi kurang peka terhadap rasa ingin buang air besar.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu konstipasi kronis maupun gangguan fungsi rektum. Penyakit wasir atau hemoroid juga mengintai orang yang gemar menahan BAB.


