Rawat Warisan Intelektual, Malaysia Dirikan Institut Pemikiran Al-Qaradawi
Jakarta (Suaraislam.id)-Malaysia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat perkembangan pemikiran Islam dunia melalui penyelenggaraan Seminar Pemikiran Yusuf Al-Qaradawi dan peluncuran Institut Pemikiran Al-Qaradawi. Acara tersebut digelar di Wisma Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, pada 21 Juli 2026.
Acara yang dihadiri para ulama, akademisi, intelektual, dan tokoh masyarakat itu dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Dalam pidatonya, ia memberikan penghormatan tinggi kepada almarhum Syekh Yusuf Al-Qaradawi sebagai salah satu pembaru pemikiran Islam paling berpengaruh pada abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Pada kesempatan tersebut, Anwar Ibrahim mengumumkan sumbangan sebesar RM2 juta (sekitar Rp8,8 miliar) dari Pemerintah MADANI untuk mendukung pendirian dan operasional Institut Pemikiran Al-Qaradawi. Dana tersebut dimaksudkan untuk memperkuat penelitian, pengkajian, penerbitan, dan pengembangan warisan intelektual Syekh Yusuf Al-Qaradawi agar dapat terus menjadi rujukan bagi generasi mendatang.
Bagi Anwar Ibrahim, penghormatan kepada Al-Qaradawi bukan sekadar penghargaan kepada seorang ulama besar, melainkan juga pengakuan atas pengaruh intelektual yang telah membentuk perjalanan kebangkitan Islam modern di Malaysia. Dalam pidatonya, Anwar bahkan menyebut Al-Qaradawi sebagai “Zeitgeist“, yakni tokoh yang menjadi penggerak semangat zamannya.
Ia mengatakan bahwa bagi generasi 1960-an hingga sekarang, Al-Qaradawi adalah ulama yang mampu membaca perubahan zaman. Al-Qaradawi menawarkan pemikiran Islam yang terbuka, moderat, serta relevan terhadap tantangan modern.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting Malaysia, antara lain Ketua Lembaga Pengarah UniSIRAJ (Universiti Islam Antarabangsa Tuanku Syed Sirajuddin) Mohd Asri Zainul Abidin dan Naib Canselor UniSIRAJ Muhamad Rozaimi Ramli. Turut hadir tokoh sastra Malaysia Anwar Ridhwan, para ulama, dosen, peneliti, mahasiswa, serta berbagai aktivis gerakan Islam.
Seminar ini sekaligus menjadi momentum peluncuran resmi Institut Pemikiran Al-Qaradawi. Lembaga ini diharapkan menjadi pusat kajian pemikiran Islam kontemporer di kawasan Asia Tenggara.
Ulama yang Mengubah Wajah Pemikiran Islam
Syekh Yusuf Al-Qaradawi bukanlah ulama biasa. Selama lebih dari enam dekade, ia menjadi salah satu pemikir Islam yang paling produktif di dunia.
Lahir di Mesir pada tahun 1926 dan wafat di Doha, Qatar, pada tahun 2022, Al-Qaradawi meninggalkan lebih dari 120 karya ilmiah. Karya-karyanya membahas fikih, tafsir, hadis, ekonomi Islam, dakwah, politik, hingga persoalan umat Islam kontemporer.
Keistimewaan Al-Qaradawi terletak pada kemampuannya memadukan kesetiaan terhadap sumber-sumber klasik Islam dengan keberanian melakukan ijtihad terhadap persoalan-persoalan baru. Ia tidak memandang syariat sebagai sesuatu yang kaku, melainkan sebagai sistem yang memiliki tujuan-tujuan luhur (maqashid al-syariah) untuk mewujudkan keadilan, kemaslahatan, dan rahmat bagi seluruh manusia.
Melalui karya-karyanya seperti Al-Halal wal Haram fil Islam, Fiqh az-Zakah, Fiqh al-Awlawiyyat, dan Fiqh al-Jihad, Al-Qaradawi memperkenalkan pendekatan fikih yang mempertimbangkan realitas kehidupan modern tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar Islam. Buku-bukunya diterjemahkan ke puluhan bahasa dan dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam di dunia.






