Ajarkan Anak dengan Cinta agar Terbiasa Mencintai
Oleh: Imam Nur Suharno (Penulis Buku Pembinaan Adab Peserta Didik dan Pendidik di Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat)
Cinta adalah bahasa pertama yang dipahami anak sebelum kata-kata. Ketika anak diajarkan dengan cinta, ia tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga merasakan aman, dihargai, dan diterima. Dari cinta itulah tumbuh benih-benih kasih sayang, empati, dan akhlak mulia.
Apa yang kita tanamkan hari ini dengan kelembutan akan menjadi kebiasaan yang ia bawa hingga dewasa. Oleh karena itu, ajarkan anak dengan cinta agar ia terbiasa mencintai Allah, sesama, dan kebaikan.
Untuk mendampingi anak belajar, hendaknya orang tua dan guru membekali diri dengan doa, kasih sayang, dan kesabaran. Selain itu, diperlukan seni dalam mendampingi agar anak tumbuh menjadi insan yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.
Berkaitan dengan seni mendampingi anak, BPKK DPW PKS Jawa Barat memberikan panduan mendidik anak dalam Modul Ketahanan Keluarga Relawan Rumah Keluarga Indonesia.
Ajarkan anak dengan cinta agar terbiasa mencintai, serta ajarkan berdoa agar terbiasa bersandar pada Allah. Selain itu, ajarkan berterima kasih agar terbiasa menghargai dan ajarkan kata maaf agar terbiasa memperbaiki.
Ajarkan berbagi agar terbiasa menyayangi, serta ajarkan menolong agar terbiasa menjauhi sifat sombong. Ajarkan pula kemandirian agar terbiasa bermental kuat dan ajarkan keberanian agar terbiasa membela kebenaran.
Ajarkan berkata lembut agar terbiasa santun, serta ajarkan kejujuran agar terbiasa siap menanggung risiko. Ajarkan kesederhanaan agar terbiasa hidup apa adanya dan ajarkan memotivasi diri agar terbiasa tidak mudah menyerah.
Ajarkan menjawab pertanyaan agar terbiasa mencari solusi, serta ajarkan cinta membaca dan ilmu agar terbiasa dekat dengan kebaikan. Pada akhirnya, ajarkan dan berikanlah cinta agar ia terbiasa mencintai.
Prof. Sartini dalam buku Pembodohan Siswa Tersistematis yang ditulis oleh M. Joko Susilo turut memberikan catatan mengenai pola pengasuhan anak. Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan, dan jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang.
Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas. Sementara itu, jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasib, dan jika sering diolok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak dikelilingi rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah. Sebaliknya, jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi sosok yang penyabar.
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri, dan jika banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai orang lain. Jika anak diterima di lingkungannya, ia akan terbiasa menyayangi, serta jika tidak sering disalahkan, ia akan terbiasa nyaman menjadi dirinya sendiri.






