#Selamatkan Al-AqshaINTERNASIONAL

Kejahatan Israel di Yerusalem dan Al-Aqsha Makin Meningkat

Palestina (Suaraislam.id) – Kota Yerusalem yang diduduki mengalami peningkatan signifikan eskalasi di lapangan dan pelanggaran hak asasi manusia sepanjang Juli. Pelanggaran tersebut ditandai dengan meningkatnya tindakan terhadap Masjid Al-Aqsha, warga Palestina, serta harta benda mereka.

Laporan hak asasi manusia yang diterbitkan Pusat Informasi Wadi Hilweh–Yerusalem mengungkap berbagai bentuk pelanggaran selama periode tersebut. Di antaranya, warga Palestina tewas dan terluka, sekitar 200 orang ditangkap, puluhan perintah deportasi diterbitkan, serta meningkatnya pembongkaran bangunan dan penyitaan tanah maupun properti.

Menurut laporan tersebut, perkembangan di lapangan merupakan bagian dari upaya yang terus berlangsung untuk memaksakan perubahan geografis dan demografis di Yerusalem yang diduduki. Langkah tersebut juga dinilai mengancam status hukum dan sejarah situs-situs suci Islam dan Kristen di kota tersebut.

Korban Tewas dan Penembakan Langsung

Sepanjang Juli, wilayah Yerusalem mencatat peningkatan penggunaan kekuatan oleh pasukan Israel yang mengakibatkan warga Palestina meninggal dunia maupun mengalami luka-luka akibat tembakan di sejumlah lokasi.

Seorang anak bernama Walid Nidal Abu Suneina tewas setelah ditembak penembak jitu Israel ketika berada di atap sebuah klub olahraga saat pasukan Israel menggerebek Kamp Pengungsi Qalandiya.

Sementara itu, Khalil Rashad Hamed Al-Rashq meninggal dunia di dekat pos pemeriksaan Kamp Pengungsi Shuafat setelah mengalami luka tembak. Menurut laporan, ia dibiarkan kehilangan banyak darah tanpa mendapatkan pertolongan medis sebelum jenazahnya kemudian disita.

Laporan tersebut menyebut insiden tersebut merupakan bagian dari kebijakan pembunuhan di luar proses hukum serta penghambatan terhadap petugas medis di Yerusalem dan kamp-kamp pengungsinya.

Masjid Al-Aqsha Jadi Pusat Eskalasi

Masjid Al-Aqsha menjadi titik utama eskalasi sepanjang Juli. Laporan mencatat lebih dari 9.650 pemukim Israel memasuki kompleks Al-Aqsha dengan pengawalan ketat pasukan Israel.

Dalam laporan disebutkan, pasukan Israel mengizinkan para pemukim melakukan doa dan ritual Talmud secara terbuka dan berjemaah, termasuk mengibarkan bendera serta simbol-simbol keagamaan di halaman masjid.

Puncak eskalasi terjadi pada 23 Juli, bertepatan dengan peringatan yang oleh Israel disebut sebagai hari kehancuran Bait Suci. Pada hari itu, lebih dari 4.000 pemukim memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha, termasuk sejumlah menteri dan anggota Knesset seperti Itamar Ben-Gvir.

Menurut laporan, tindakan tersebut bertujuan mengubah kawasan timur kompleks Masjid Al-Aqsha menjadi lokasi ritual dan pertemuan keagamaan Yahudi, sekaligus menghapus pengaturan Status Quo yang mengakui seluruh kompleks Al-Aqsha sebagai tempat ibadah khusus umat Islam di bawah pengelolaan Wakaf Islam.

1 2Laman berikutnya
Back to top button