Wali Kota New York Bikin Supermarket Subsidi Diskon 30%
New York (Suaraislam.id)—Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, meluncurkan program supermarket berfasilitas subsidi pemerintah kota guna menekan beban biaya hidup warga. Kebijakan diskon 30 persen untuk kebutuhan pokok ini digadang-gadang mampu menghemat pengeluaran rumah tangga hingga 90 dolar AS atau sekitar Rp1,6 juta per bulan.
Politikus yang mengidentifikasi dirinya sebagai “sosialis demokrat” tersebut menyiapkan lima gerai awal yang tersebar di wilayah Manhattan, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Staten Island.
Mamdani mengalokasikan anggaran sebesar 70 juta dolar AS (Rp1,25 triliun) untuk proyek pembangunan dan renovasi jaringan ritel publik ini.
“Setiap toko akan menawarkan pilihan produk yang disesuaikan secara budaya dengan keragaman New York dan lingkungan spesifik tempat toko tersebut berada,” bunyi dokumen resmi Pemerintah Kota New York, Rabu (5/8/2026).
Pemerintah Kota New York menyebutkan bahwa 86 persen warga mengalami kenaikan harga pangan yang melampaui pertumbuhan pendapatan mereka. Supermarket publik ini difokuskan menjual bahan pangan sehat seperti daging, ikan, sayuran, buah segar, susu, serta 20 kategori kebutuhan dapur utama.
Toko milik pemerintah kota ini dipastikan tidak menjual alkohol, rokok, lotere, maupun makanan siap saji. Penetapan harga diskon berlaku mengikat selama 30 hari tanpa terpengaruh fluktuasi pasar harian.
Guna menjaga transparansi dan efisiensi, pengoperasian toko diserahkan kepada pihak swasta melalui mekanisme tender terbuka. Perusahaan pemenang dibebaskan dari biaya sewa, pajak properti, dan biaya renovasi, tetapi wajib memberikan gaji layak serta menjaga kualitas produk.
Dua lokasi perdana yang disiapkan mencakup kompleks The Peninsula di Bronx pada akhir 2027 dan pasar La Marqueta di Manhattan pada 2029.
Inisiatif ritel publik ini menuai kritik tajam dari kalangan asosiasi bisnis independen dan kelompok pengusaha ritel lokal. Kebijakan ini dinilai memicu persaingan tidak sehat dan berisiko menciptakan antrean jatah pangan layaknya perekonomian gaya Uni Soviet.
Juru bicara asosiasi pedagang kelontong United Bodegas of America, Fernando Mateo, menilai intervensi pemerintah berpotensi mematikan usaha mikro imigran.
“Di situlah semuanya akan jatuh ke tangan polisi. Mereka yang harus menghadapi kekacauan yang akan tercipta,” kata Mateo kepada saluran lokal PIX.
“Jika Anda mampu menyusupkan pemerintah ke sektor swasta, Anda sedang menghancurkan impian semua orang yang mempertaruhkan segalanya, meminjam sebanyak yang mereka bisa, untuk membuka usaha kecil mereka,” tambahnya.






