Bukan Soal Rezeki, Ini Hukuman Terberat Bagi Seorang Muslim
Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Hukuman atas dosa seorang hamba tidak selalu berupa berkurangnya rezeki, kesulitan pekerjaan, atau persoalan kehidupan lainnya. Ada hukuman yang jauh lebih berat bagi seorang muslim, yaitu ketika dirinya tidak lagi mampu merasakan nikmat beribadah dan kehilangan kekuatan untuk bangun menunaikan qiyamul lail.
Seorang muslim perlu waspada ketika mulai kehilangan kenikmatan dalam beribadah. Sebab, ketika ibadah hanya dilakukan sebatas kewajiban tanpa menghadirkan rasa nikmat dan kedekatan kepada Allah, hal tersebut menjadi tanda yang perlu direnungkan.
Salah satu bentuk teguran yang sangat perlu diwaspadai adalah ketika kita tidak mampu menghidupkan malam dengan ibadah. Kemampuan untuk bangun di malam hari dan bermunajat kepada Allah Swt merupakan sebuah nikmat yang besar.
Karena itu, ketika seorang muslim terus-menerus kehilangan kemampuan tersebut, kondisi itu semestinya tidak dianggap sebagai hal biasa. Ia perlu melakukan introspeksi diri dan memperbanyak istigfar.
Terdapat hubungan yang sangat kuat antara dosa dan berbagai teguran yang dialami seseorang. Seorang muslim hendaknya tidak hanya mencari sebab lahiriah dari setiap persoalan, tetapi juga berani bertanya kepada dirinya sendiri.
“Apa yang harus saya perbaiki dalam hubungan saya dengan Allah? Harus ada istigfar,” tegasnya.
Mari kita tidak hanya menjalankan amanah dakwah secara profesional, tetapi juga terus memperkuat bekal spiritual. Kita sebagai bagian dari dakwah dan tarbiyah sangat membutuhkan energi untuk membangun kedekatan diri dengan Allah Swt.
Keteladanan menjadi bagian yang sangat penting di dalam dakwah. Mengajak kepada kebaikan harus dimulai dari upaya memperbaiki diri sendiri, termasuk menjaga ibadah wajib dan memperbanyak amalan sunah.
Amalan-amalan yang terlihat ringan justru dapat menjadi pintu bagi datangnya berbagai kebaikan. Sebaliknya, ketika seseorang sudah merasa berat melakukan amalan sunah, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak semakin jauh dari Allah Swt.
Ketahuilah bahwa ukuran keberhasilan seorang muslim tidak hanya terlihat dari pencapaian duniawi semata. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan menjaga hubungan dengan Allah, menikmati ibadah, serta memiliki kerinduan untuk bermunajat kepada-Nya.
Untuk itu, kita harus memperbanyak muhasabah, istigfar, dan menjaga qiyamul lail sebagai upaya memperkuat spiritualitas dalam menjalankan amanah dakwah dan tarbiyah. []






