INTERNASIONAL

Panik, Pejabat Israel Ancam Cabut Kewarganegaraan Sutradara Film Naza

Jakarta (Suaraislam.id) — Pejabat Israel mengecam keras sebuah film dokumenter baru tentang tindakan militer di Gaza. Mereka menyerukan langkah hukum terhadap para pembuat film beserta sumber informasi mereka.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin (14/9/2026) menyebut dokumenter berjudul Naza tersebut sebagai film yang “mengejutkan”. Film ini menuduh bahwa kematian massal warga sipil secara rutin dimasukkan ke dalam pertimbangan keputusan penyerangan selama perang genosida Israel di Gaza.

Netanyahu menuding film tersebut sebagai bagian dari gelombang hasutan anti-Semit global.

Pimpinan Militer Israel, Eyal Zamir, telah memerintahkan dimulainya penyelidikan hukum untuk memburu para sumber informasi, yang mencakup anggota militer dan intelijen Israel yang identitasnya disembunyikan.

Menteri Kebudayaan bahkan mengusulkan agar pemerintah mengajukan tuduhan pengkhianatan terhadap para pembuat film dan pihak lain yang terlibat.

Film dokumenter yang disutradarai oleh jurnalis Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, meraih Special Jury Prize di Venice Film Festival pada Sabtu (12/9/2026). Karya ini menerima apresiasi berupa tepuk tangan berdiri (standing ovation) selama 25 menit saat ditayangkan dua hari sebelumnya.

Baca juga: Kesaksian Perwira Israel di Film NAZA: Pembunuhan Sipil Gaza Adalah Tindakan Terencana

“Ini sangat mengejutkan. Kita sedang melawan hasutan anti-Semit global, dan ketika hal itu datang dari dalam diri kita sendiri, itu tidak dapat ditoleransi,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah di Telegram.

“Dan sekarang dua sutradara Israel yang menggambarkan [militer Israel] sebagai penjahat perang menerima tepuk tangan di festival Venesia,” lanjutnya.

Tudingan ‘Fitnah Kejam’

Pernyataan Netanyahu menyusul penegasan dari Zamir yang menyebut bahwa film tersebut merupakan bentuk serangan terhadap Negara Israel.

“Berdasarkan apa yang telah dipublikasikan sejauh ini, ini bukanlah film yang menawarkan kritik terhadap [militer], bukan pula sebuah upaya untuk menegakkan kebenaran. Film ini didasarkan pada blood libels (fitnah kejam), penyimpangan kenyataan yang disengaja, serta tuduhan berat yang palsu terhadap para prajurit dan komandan [Israel],” kata Zamir.

Pimpinan militer tersebut telah memerintahkan Military Advocate General, yang wewenang hukumnya terbatas di lingkungan internal militer, untuk memeriksa dan memproses kemungkinan langkah hukum terkait film tersebut beserta pihak-pihak yang terlibat.

1 2Laman berikutnya
Back to top button