OPINI

Opini Publik AS tentang Israel Berubah, Kebijakan AS Juga Harus Berubah

Dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel akan berakhir, tetapi perubahan kebijakan ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun.

Jasim Al-Azzawi, Analis dan jurnalis

Narasi Zionis telah menjadi kekuatan dominan di Amerika Serikat selama lebih dari tujuh dekade. Didukung lobi kuat, dipelihara oleh kaum evangelis Kristen, dan digaungkan oleh media arus utama, narasi ini sebagian besar tidak pernah digugat—hingga pecahnya genosida di Gaza.

Dalam hampir dua tahun, gambar horor yang tak henti-hentinya, skala kehancuran, dan hilangnya nyawa manusia dalam jumlah mengejutkan telah menciptakan catatan kebiadaban yang sulit dibantah, sehingga menantang narasi Zionis. Survei demi survei mencatat adanya pergeseran opini publik terhadap Israel. Di kedua sisi politik, orang Amerika semakin kurang antusias dengan dukungan total bagi sekutu lama AS ini. Lalu, apa artinya bagi hubungan AS-Israel?

Apa kata jajak pendapat

Jajak pendapat mulai menangkap perubahan opini publik AS, terutama di kalangan Demokrat muda, bahkan sebelum serangan 7 Oktober 2023. Namun setelah itu, pergeseran tampak meningkat drastis.

Survei Pew Research Maret lalu menunjukkan sikap negatif terhadap Israel naik dari 42% menjadi 53% warga dewasa AS sejak 2022. Di kalangan Demokrat, lonjakan lebih tajam: dari 53% menjadi 69% dalam periode yang sama.

Perubahan ini juga bersifat lintas-generasi. Di antara Demokrat berusia 50 tahun ke atas—kelompok yang biasanya moderat dalam isu luar negeri—sikap negatif terhadap Israel melonjak dari 43% menjadi 66%.

Survei The Economist-YouGov (Agustus) menunjukkan 44% Demokrat lebih bersimpati kepada Palestina dibanding hanya 15% kepada Israel; di kalangan Independen, angkanya 30% vs 21%.

Survei yang sama juga menunjukkan mayoritas warga AS menilai pemboman Gaza oleh Israel tidak beralasan, dan sekitar 78% menginginkan gencatan senjata segera—termasuk 75% dari Partai Republik. Sementara 43% responden menyatakan Israel sedang melakukan genosida terhadap Palestina, hanya 28% yang tidak setuju.

Lebih signifikan lagi, 42% warga AS mendukung pengurangan bantuan untuk Israel; di kalangan Republik, angkanya 24%.

Survei Harvard-Harris (Juli) bahkan mengungkap tren yang lebih mengkhawatirkan bagi pendukung Israel: 40% anak muda Amerika kini lebih berpihak pada Hamas dibanding Israel. Walaupun ini lebih mencerminkan simpati umum kepada Palestina, hal ini menunjukkan retaknya dominasi narasi “terorisme Palestina” di kalangan generasi muda Amerika.

Survei yang sama menunjukkan hanya 27% yang mendukung PM Israel Benjamin Netanyahu, sebuah pukulan telak yang jauh berbeda dengan sambutan hangat yang biasa ia dapatkan di Gedung Putih dan Kongres.

Bagaimana kebijakan bisa berubah

Ketika pemilih tua—benteng terakhir dukungan Israel—digantikan generasi muda yang lebih simpati terhadap Palestina, perhitungan politik akan bergeser menuju perubahan besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah AS akan meninjau ulang hubungan khususnya dengan Israel, tetapi kapan.

Namun, dukungan bipartisan terhadap Israel membuat perubahan ini akan memakan waktu lama.

1 2Laman berikutnya
Back to top button