Ahlul Qur’ān: Tidak Hanya Hafal, Juga Hidup Bersama Al-Qur’an
فَهَذا المَثَلُ وإنْ كانَ قَدْ ضُرِبَ لِلْيَهُودِ فَهو مُتَناوِلٌ مِن حَيْثُ المَعْنى لِمَن حَمَلَ القُرْآنَ فَتَرَكَ العَمَلَ بِهِ، ولَمْ يُؤَدِّ حَقَّهُ، ولَمْ يَرْعَهُ حَقَّ رِعايَتِهِ. اه.
“Meskipun perumpamaan ini dibuat untuk (mencela) orang-orang Yahudi, namun dari sisi maknanya ia juga mencakup siapa saja yang memikul (menghafal atau membawa) Al-Qur’an lalu meninggalkan amal dengannya, tidak menunaikan haknya, dan tidak menjaga kehormatannya sebagaimana mestinya.”
Jadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk
Dari keseluruhan uraian dapat disimpulkan bahwa Ahlul Qur’ān bukan hanya mereka yang hafal Al-Qur’an, tetapi siapa saja yang memiliki hubungan dekat dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Gelar “Ahlul Qur’an” diberikan kepada mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (hudā), penyembuh (syifā’), rahmat, serta sumber ilmu dan pedoman perilaku.
Sebaliknya, Al-Qur’an mengecam keras siapa pun yang hanya membawa/menghafal lafaz tanpa memahami dan mengamalkannya, sebagaimana perumpamaan keledai yang membawa kitab-kitab tebal tanpa mengetahui isinya.
Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa meninggalkan Al-Qur’an dapat terjadi dalam berbagai bentuk: tidak mendengarkannya, tidak mengamalkannya, tidak berhukum dengannya, tidak mentadabburinya, dan tidak menjadikannya sebagai penyembuh bagi penyakit hati.
Dengan demikian, Ahlul Qur’an adalah mereka yang hidup bersama Al-Qur’an—baik secara intelektual, spiritual, maupun praktis.
Pada akhirnya, kedekatan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak diukur dari banyaknya hafalan semata, tetapi dari kesungguhan hidup di bawah cahaya petunjuknya, keikhlasan mengamalkan ajarannya, dan komitmen menjadikannya sebagai panduan dalam setiap aspek kehidupan.
Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, dipahami, direnungi, dan diamalkan, sehingga ia benar-benar menjadi pedoman hidup yang menggerakkan hati dan memperbaiki perilaku. Wallāhu a‘lam. []
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berasal dari Pemalang, Jawa Tengah.






