AI dan Pertanyaan Lama tentang Pendidikan: Sebuah Refleksi
Tantangannya bukan lagi bagaimana memperoleh ilmu, melainkan bagaimana memastikan ilmu itu digunakan untuk kebaikan. AI dapat menjelaskan arti kejujuran, tetapi tidak dapat menjadi teladan kejujuran. AI juga dapat menjelaskan pentingnya amanah, tetapi tidak dapat menghadirkan pengalaman hidup bersama seseorang yang amanah.
Teknologi ini dapat menjawab pertanyaan tentang akhlak, tetapi tidak dapat menggantikan proses pembentukan karakter manusia. Proses krusial tersebut hanya bisa berlangsung melalui keteladanan dan interaksi langsung antarmanusia. Di sinilah sekolah menemukan kembali relevansinya di era modern.
Sekolah bukan sekadar tempat menyampaikan pengetahuan, melainkan ruang tempat manusia belajar hidup bersama. Di dalamnya peserta didik belajar menghargai perbedaan, mengelola konflik, membangun tanggung jawab, serta memahami batas antara hak dan kewajiban. Semua proses tersebut tidak cukup dijelaskan melalui algoritma, melainkan membutuhkan kehadiran manusia yang membimbing dan memberi teladan.
Karena itu, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang. Masa depan tersebut ditentukan oleh seberapa kuat kita mempertahankan tujuan hakiki pendidikan itu sendiri. Jika pendidikan direduksi hanya menjadi transfer pengetahuan (transfer of knowledge), sebagian perannya memang dapat digantikan oleh teknologi.
Namun, jika pendidikan dipahami sebagai proses membentuk manusia yang beradab, peran guru dan sekolah akan tetap dibutuhkan. AI sesungguhnya tidak sedang mengancam dunia pendidikan. Teknologi ini justru memaksa kita kembali kepada pertanyaan lama yang selama ini sering terlupakan: apa sebenarnya tujuan pendidikan?
Barangkali di situlah letak hikmah terbesar dari perkembangan teknologi hari ini. Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, kita justru diingatkan untuk kembali memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar. Salah satu yang paling utama adalah pertanyaan filosofis tentang hakikat pendidikan itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang berhasil dikumpulkan manusia. Keberhasilan tersebut diukur dari seberapa jauh ilmu membentuk akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawabnya. Melalui kualitas itulah manusia mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. []






