AI Jadi Senjata Baru Tindakan Pelecehan terhadap Muslimah India
Para peneliti bukan satu-satunya pihak yang memantau tren ini.
Meri Trustline, sebuah saluran bantuan keamanan daring yang dikelola oleh RATI Foundation yang berbasis di Mumbai, juga melihat peningkatan volume kasus semacam itu. Laporan saluran bantuan tahun 2024 mengungkapkan pola yang mengkhawatirkan: Ketika perhatian media cenderung berfokus pada selebritas dan politisi, perempuan yang bukan tokoh publik juga menjadi sasaran melalui gambar yang, meskipun dihasilkan secara buatan, memiliki kemampuan untuk menimbulkan bahaya di dunia nyata.
Konselor lini depan di saluran bantuan tersebut, termasuk Salman Mujawar, yang pekerjaannya bersama para penyintas menjadi dasar dari sebagian besar bukti publikasi organisasi, mengatakan mereka telah mendokumentasikan lonjakan jumlah kasus tersebut.
Sejak didirikan pada tahun 2022, Meri Trustline telah menangani lebih dari 482 kasus, sekitar 10 persen di antaranya melibatkan materi yang dimanipulasi secara digital—sebuah proporsi yang terus meningkat seiring dengan semakin mudahnya akses ke alat-alat AI.
“Pelanggaran-pelanggaran ini tersamarkan oleh rasa malu, takut, dan trauma,” kata Mujawar. “Insiden jarang diungkapkan bahkan kepada anggota keluarga dekat, apalagi ditampilkan dalam wacana publik yang lebih luas.”
‘Pornifikasi Politik’
Video Ayoub menyebar ke berbagai akun media sosial dalam hitungan jam. Komentar kasar, panggilan telepon bernada ancaman, dan tuduhan terhadap karakternya menyusul dengan cepat.
“Rasanya seperti penghakiman massal secara digital (digital lynching),” katanya. “Bukan hanya satu, tetapi lebih dari selusin akun mengunggah video itu di mana-mana, dan ratusan akun lainnya membagikannya kembali.”
Kumpulan data yang dihimpun oleh CSOH mencakup meme buatan AI yang menggambarkan perempuan Muslim berpakaian keagamaan dalam skenario sugestif seksual, serta citra pornografi buatan yang menargetkan jurnalis dan aktivis. Di berbagai gambar ini, para peneliti mengamati pola visual yang berulang: seorang “perempuan bersandi Muslim” yang dipasangkan dengan “pria bersandi Hindu”.
“Dalam narasi ini, pria Muslim sering kali digambarkan sebagai sosok yang keras atau rusak secara moral,” kata Khan. “Sementara itu, perempuan Muslim digambarkan sebagai sosok yang tunduk atau ‘diselamatkan’ oleh pria dari komunitas mayoritas.”
Citra ini, menurut para peneliti, bukanlah kebetulan dalam wacana politik—melainkan bagian darinya.
Sahana Udupa, seorang antropolog media di Universitas Ludwig Maximilian Munich, menggambarkan fenomena ini sebagai bagian dari “pornifikasi politik” yang lebih luas yang menargetkan perempuan dan komunitas minoritas. Budaya digital sayap kanan, katanya, memadukan humor, meme, dan citra seksual untuk menormalisasi pelecehan.
“Praktik-praktik ini membentuk sebuah ekosistem,” kata Udupa. “Mereka tumbuh subur dari perayaan kelompok dan agresi kolektif.”
Ekosistem tersebut, catat para akademisi, memiliki akar ideologis yang lebih dalam daripada sekadar kebencian terhadap perempuan (misogyny). Menulis di South Asia Multidisciplinary Academic Journal, peneliti Soma Basu berpendapat bahwa apa yang sedang terjadi adalah politisasi dari aspek seksual itu sendiri.
Tubuh perempuan Muslim telah menjadi medan pertempuran demi dominasi komunal—sebuah dinamika yang menemukan ekspresi paling nyatanya dalam kontroversi “Sulli Deals” dan “Bulli Bai”, platform lelang palsu yang menargetkan perempuan Muslim di India. Basu mengaitkan hal ini dengan dukungan formal dari pejabat Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa maupun dukungan informal dari sukarelawan digital partai tersebut.






