IBADAH

Al-Ghazali dan Syatahat Sufi: Menjaga Syariat dari Bias Spiritual

وهذا فن من الكلام عظيم ضرره في العوام حتى ترك جماعة من أهل الفلاحة فلاحتهم وأظهروا مثل هذه الدعاوي فإن هذا الكلام يستلذه الطبع إذ فيه البطالة من الأعمال مع تزكية النفس بدرك المقامات والأحوال فلا تعجز الأغبياء عن دعوى ذلك لأنفسهم.

“Gaya bicara ini sangat membahayakan kaum awam sehingga sekelompok petani rela meninggalkan pekerjaannya demi melontarkan klaim serupa, sebab tabiat manusia menyukai ucapan yang memberikan dalih libur beramal sekaligus merasa jiwanya suci, karenanya orang bodoh sekalipun tidak kesulitan mendaku pencapaian tersebut.”

Berdasarkan pemaparan tajam tersebut, menyebarluaskan syatahat kepada orang yang belum matang secara spiritual terbukti sangat merusak. Peniruan ucapan tanpa pemahaman hakikat yang benar pada akhirnya berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam jurang kekufuran dan pengabaian syariat.

Prinsip utama Al-Ghazali menekankan bahwa kebenaran batin (hakikat) sama sekali tidak boleh bertentangan dengan kebenaran hukum lahir (syariat). Setiap pengalaman spiritual sufi yang terbukti menabrak aturan baku hukum Islam secara mutlak dinilai sebagai sebuah penyimpangan.

Bagi sang Hujjatul Islam, kaum sufi sejati justru merupakan individu yang paling ketat menjaga syariat meskipun sedang hanyut dalam gejolak spiritual. Beliau sangat menyarankan agar para penempuh jalan tasawuf selalu menyembunyikan rahasia (sirr) kedekatan mereka dan tidak mengumbarnya ke publik.

Jika seorang sufi telanjur kehilangan kendali atas lisannya, ia bisa dimaafkan secara personal tetapi ucapannya dilarang keras untuk dijadikan rujukan. Pendekatan moderat ini membuktikan keberhasilan Al-Ghazali menyelaraskan tasawuf yang intuitif dengan koridor kebenaran Al-Qur’an dan sunah.[]

M. Iklil Farido Amirudin, Mahasantri Semester 4 Ma’had Aly Darussalam Blokagung.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button