Amien Rais Ingin Prabowo Sampai 2029
Program tersebut antara lain meliputi penguatan demokrasi Pancasila, penegakan hak asasi manusia, penguatan pertahanan keamanan nasional, penciptaan lapangan kerja, pengembangan kewirausahaan, peningkatan sumber daya manusia, hingga kesetaraan gender.
Namun, Amien Rais mengakui bahwa kondisi bangsa saat ini sedang tidak baik-baik saja dan bergerak makin eksklusif secara sosial-politik.
“Saya tidak tahu persis berapa besar angka pengangguran terbuka yang diderita masyarakat sekarang. Demikian juga sejauh mana terjadi PHK yang semakin sering. Angka-angkanya saya tidak mencari, mohon maaf. Tetapi saya sering mendatangi pengajian-pengajian di berbagai kota, terutama di Yogyakarta dan beberapa kabupaten di DIY serta Jawa Tengah. Saya sempat melihat suasana lesu, apalagi di pasar-pasar tradisional. Banyak pasar yang setelah pukul sembilan pagi sudah sepi pembeli, padahal masih banyak pedagang yang bengong atau hanya mengisi waktu dengan memencet ponsel mereka. Wajah riang dan ceria ibu-ibu pedagang pasar itu seperti sudah hilang entah ke mana,” terangnya.
Pakar ilmu politik ini juga menganjurkan agar suasana pesta pora para menteri dikurangi semaksimal mungkin, terutama oleh Pak Prabowo. Para pejabat diimbau untuk tidak lagi berjoget-joget lalu berfoto bersama.
Sebab, begitu adegan bermewah-mewah tersebut disiarkan ke publik, reaksi masyarakat akan seragam, yaitu marah dan mengumpat.
Antisipasi Gerakan Massa
“Sementara itu, kita semua berharap dan berdoa supaya peristiwa people power yang terjadi pada 21 Mei 1998 di Jakarta, juga di Yogyakarta, Bandung, dan kota-kota lain, tidak terulang lagi. Mengapa? Karena kesadaran rakyat kita terhadap hak-hak asasi manusia dewasa ini sudah sangat mendalam. Sehingga apabila sampai terjadi people power lagi, maka skala dan magnitudonya bisa berkali-kali lebih besar dibandingkan yang terjadi tiga puluh tahun lalu. Karena itu kita semua harus mengimbau agar rakyat tidak sampai turun ke jalan. Namun apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus merosot drastis, PHK menjadi fenomena massal, banyak investor cabut dari Indonesia, lalu terjadi rush domestik sehingga para penyimpan uang di bank-bank Indonesia menarik simpanannya, maka kita semua perlu khawatir. Bisa jadi ekonomi kita keteteran, terus memburuk, dan memancing keresahan serta kerusuhan yang lepas kendali. Ini keprihatinan saya,” terang Amien Rais.
Tokoh reformasi ini memprediksi bahwa gerakan massa yang terjadi pada masa kini berpotensi lebih beringas dan masif, termasuk memicu penjarahan toko-toko. Ancaman stabilitas keamanan sosial ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak.
“Saya ingat waktu people power dulu ada fase di mana rakyat benar-benar marah. Sasaran mereka adalah toko-toko swalayan dan lain-lain yang isinya digotong. Ada televisi dan berbagai barang lainnya yang dibawa. Polisi juga tidak bisa berbuat banyak karena massa benar-benar marah dan bersatu padu dalam meruntuhkan rezim pada waktu itu,” jelasnya.
Lebih lanjut Amien Rais menyatakan, “Nah sekarang masalahnya, menurut saya—mudah-mudahan saya keliru—politik pimpinan Wong Solo yang satu itu bisa menjala ikan di air keruh. Besar kemungkinan Kapolri sedikit lebih mendengarkan pengarahan Pak Jokowi daripada Pak Prabowo. Maaf, Pak Jokowi bisa gelap mata jika semakin dekat ke tahun 2029 nilai jual Gibran semakin merosot. Di samping itu politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampaknya tidak mudah dijual kepada masyarakat Indonesia yang semakin cerdas membaca peta politik Indonesia.”
Menurut Amien Rais, tidak ada satu pun partai politik saat ini yang rela bila massa pendukungnya berpindah haluan ke PSI. Ia menilai Pak Jokowi cukup cerdas untuk memahami bahwa masa depan PSI memang tetap suram.
“Agaknya Pak Jokowi sudah sadar bahwa jika nekat melaksanakan rencana safari nasional yang semula akan dilakukan mulai awal Juni, hal itu justru kontraproduktif sehingga kemungkinan ditunda entah sampai kapan. Kemungkinan besar Pak Jokowi yakin bahwa bila reaksi negatif berupa penolakan dari masyarakat yang dikunjungi cukup meluas, maka beliau bukan lagi objek kekaguman, tetapi objek celotehan, objek umpatan, dan objek penghinaan,” jelas mantan Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini.
Seruan Introspeksi Diri
Amien Rais mengakui bahwa analisis dinamika politik ini merupakan bagian dari pengandaian objektif di lapangan.






