Anwar Ibrahim Berani Lawan Israel, Prabowo?
Keesokan harinya, pada 23 Juli 2026, Kantor Perdana Menteri Malaysia mengunggah kembali sikap Anwar dalam pernyataan resmi.
“Malaysia tetap dengan pendirian tegas mempertahankan dasar melarang kemasukan mana-mana warganegara rejim Israel ke negara ini…” tulis rilis resmi tersebut.
Pada 24 Juli 2026, Anwar menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan didasarkan pada kebencian terhadap pemeluk agama Yahudi. Langkah itu diambil murni karena penolakan tegas Malaysia terhadap kejahatan Israel atas rakyat Palestina.
“Ini bukan karena kami menghina orang Yahudi,” katanya. “Kami menentang kekejaman, penindasan, dan pendudukan oleh Israel… Kami bukan anti-ras, kami menentang sebuah negara yang melakukan penindasan,” terang Anwar.
Anwar juga menegaskan bahwa Malaysia tidak sedang bermusuhan dengan Amerika Serikat. Ia menyampaikan bahwa hubungannya dengan Presiden Donald Trump berjalan sangat baik, sehingga perbedaan pandangan mengenai Israel tidak seharusnya merusak hubungan bilateral.
Prabowo dan Israel
Sejak Presiden Prabowo berkuasa, belum terlihat sikap tegas terhadap Israel yang jelas-jelas telah membunuh lebih dari 73.000 warga Palestina. Dalam pertemuan dengan ormas-ormas Islam, Prabowo hanya memamerkan bantuan kemanusiaan serta fasilitas penampungan kuliah bagi warga Palestina di Indonesia.
Ketika beberapa negara Eropa memutuskan hubungan dagang dengan Israel, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo belum mengambil langkah berani tersebut. Aktivitas ekspor dan impor dengan Israel masih terus berlangsung di negeri ini, meskipun volume perdagangannya relatif kecil.
Berbeda dengan Malaysia yang secara eksplisit melarang warga Israel berkunjung, Indonesia justru membiarkan warga Israel mondar-mandir masuk. Bahkan, beberapa tentara Israel dikabarkan pernah berkunjung ke Bali.
Mirisnya, saat warga Israel bebas berkunjung, aktivis kemanusiaan Palestina Abdul Karim Miqdad justru dideportasi ke Siprus pada 17 Juli 2026 lalu atas tuduhan terlibat terorisme. Tuduhan tersebut terkesan tidak jelas dan diduga disutradarai oleh agen-agen Israel di Siprus.
Selama Prabowo belum mengambil tindakan nyata—seperti menghentikan hubungan perdagangan atau melarang warga Israel masuk—dukungannya terhadap Palestina akan terus diragukan.
Selain memberikan bantuan logistik, sanksi tegas terhadap Israel mutlak diperlukan. Tanpa tindakan nyata, Israel akan terus mencaplok Gaza dan Tepi Barat serta membantai kaum muslimin Palestina setiap hari.
Anwar Ibrahim telah menunjukkan keberanian teladan di Asia dalam menyikapi kebiadaban Israel di Palestina. Akankah Prabowo berani mengikuti jejak tegas tersebut?
Jika hanya berhenti pada wacana, Prabowo akan dikenang sebagai pemimpin yang penakut. Keberaniannya seolah hanya berlaku kepada rakyatnya sendiri, tetapi menciut di hadapan Trump dan Netanyahu. Wallahu ‘azizun hakim. []






