INTERNASIONAL

AS Buka Sayembara, Rp172 Miliar untuk Hashim Finyan Rahim al-Saraji

Jakarta (SI Online) – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui program Rewards for Justice (RFJ) resmi mengumumkan sayembara bernilai fantastis demi memburu jejak pemimpin kelompok Kata’ib Sayyid ul-Shuhada (KSS) Irak, Hashim Finyan Rahim al-Saraji.

Pemerintah Amerika Serikat menjanjikan imbalan hingga 10 juta dolar AS atau setara Rp172 miliar bagi siapa pun yang mampu memberikan informasi valid mengenai keberadaan sosok yang diduga kuat mendapat sokongan penuh dari Iran tersebut.

Pengumuman ini disampaikan secara terbuka oleh pihak RFJ melalui media sosial pada Jumat, 24 April 2026, sebagai langkah agresif untuk mempersempit ruang gerak tokoh kunci milisi Irak itu.

“Imbalan hingga Rp172 miliar untuk informasi tentang Pemimpin KSS Hashim Finyan Rahim al-Saraji,” kata RFJ di platform X.

Otoritas keamanan Amerika Serikat menengarai bahwa KSS merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas deretan peristiwa berdarah yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil di Irak.

Selain menyasar warga sipil, kelompok ini juga dituduh melakukan serangkaian serangan sistematis terhadap fasilitas diplomatik serta pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Irak dan Suriah.

Guna menjaga kerahasiaan identitas informan, RFJ menginstruksikan masyarakat untuk mengirimkan data sensitif tersebut melalui saluran aman Tor atau aplikasi pesan terenkripsi Signal.

Pemerintah Amerika Serikat juga menjanjikan perlindungan maksimal berupa relokasi tempat tinggal serta jaminan keamanan bagi para informan yang datanya terbukti akurat dan memenuhi kriteria.

Langkah ini menyusul kebijakan sebelumnya pada 1 April, saat Departemen Luar Negeri AS juga menawarkan imbalan 3 juta dolar AS untuk informasi terkait serangan di fasilitas diplomatik mereka.

Ketegangan diplomatik pun sempat memuncak pada 9 April ketika Washington memanggil Duta Besar Irak guna membahas serangan di Baghdad yang melibatkan kelompok-kelompok sekutu Iran.[]

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Back to top button