SAKINAH

Awas, Validasi Medsos Picu Perilaku Ingin Diistimewakan

Jakarta (Suaraislam.id) – Kebiasaan menerima validasi instan di media sosial berisiko memicu perilaku merasa berhak selalu diistimewakan (entitlement). Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed.

Dikutip dari tulisannya di Psychology Today pada Ahad (20/9), Reed memaparkan bahwa fitur dasar media sosial seperti tombol like, komentar, hingga jumlah pengikut memberikan kepuasan instan (instant gratification). Arus umpan balik yang konsisten tersebut menciptakan sistem ganjaran sosial yang sangat kuat di otak.

Dalam sejumlah riset neurosains, stimulasi penghargaan digital tersebut bahkan dapat memicu reaksi saraf yang lebih kuat dibandingkan ganjaran materi. Menurut Reed, validasi daring ini kerap menjadi penguat emosional yang dominan, terutama bagi individu narsistik yang haus akan pengakuan sosial.

Seiring berjalannya waktu, pengguna yang terbiasa dihujani pujian digital mulai mengharapkan tingkat pengakuan yang sama di dunia nyata. Ekspektasi tinggi ini berlaku di lingkungan kerja, kampus, maupun relasi personal.

“Kondisi ini menimbulkan jurang frustrasi (frustration gap) ketika interaksi sehari-hari gagal menyamai dunia maya yang serba cepat dan instan,” kata Reed.

Ketika harapan tersebut tidak terwujud di dunia nyata, kekecewaan dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan atas dasar rasa berhak diistimewakan. Reed juga menyoroti sebagian besar konten media sosial yang merupakan hasil kurasi ketat tanpa memperlihatkan proses kerja keras dan kegagalan di baliknya.

Guna mengatasi dampak psikologis tersebut, Reed menyarankan pengguna untuk membangun kesadaran kritis saat berselancar di dunia maya. Masyarakat diimbau untuk lebih menghargai proses dan kerja nyata ketimbang sekadar mengejar visibilitas digital.[]

Sumber: Antara

Back to top button