Ayah, Pilar Kokoh Keluarga Sampai Melahirkan Peradaban
Peran dan sosok ayah saat ini menjadi mimpi banyak anak-anak khususnya di Indonesia. 20,9% anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Ayah secara fisik ada tapi peran seorang ayah yang hilang di hadapan anak.
Harus kita sadari, peran ayah bukan hanya mengumpulkan banyak materi tapi keterlibatan ayah dalam mendidik juga harus memperhatikan kualitas interaksi dan perhatian. Keterlibatan ini berupa fisik, moral, intelektual, emosional maupun otoritas.
Ayah sebagai qawwam dalam keluarga harus menjadi pilar yang kokoh dalam menjalankan tanggung jawab sampai titik akhir bisa menghasilkan generasi yang melahirkan peradaban.
Kita harus menyadari bahwa anak merupakan salah satu unsur umat ini. Hanya saya dia bersembunyi di balik tabir kekanak-kanakannya. Apabila disingkap tabir itu pasti kita temukan dia berdiri sebagai salah satu tiang penyanggah umat ini. Tapi itu tidak akan tersingkap selain dengan bimbingan dan pendidikan secara berkala. Di sinilah pilar kokoh keluarga itu memiliki peran besar. Begitulah kata Syekh Muhammad Al-Khidhr Husain pada buku “Prophetic Parenting.”
Berbicara tentang ayah, menariknya ada 17 ayat Al-Qur’an yang membahas tentang pengasuhan yang tersebar di sembilan surat. Perinciannya, dialog ayah dengan anak ada di 14 tempat, dialog ibu dengan anak dua tempat, dialog kedua orang tua dengan anak (tanpa nama) satu tempat.
Surat yang membahas nasihat ayah dan anak terdapat pada surat Luqman ayat 13-19. Kita bisa perhatikan makna surat ini yaitu mencakup pendidikan tauhid (keimanan) untuk tidak menyekutukan Allah SWT, kewajiban berbakti kepada orang tua, perintah shalat, amar ma’ruf nahi munkar, kesabaran, hingga pentingnya akhlak yang baik seperti tidak bersikap sombong dan bersikap sederhana serta merendahkan suara saat berbicara.
Begitu pentingnya sosok ayah dalam pendidikan anak, mulai dari penanaman tauhid sampai berinteraksi sosial yang baik.
Ayah, kehadiranmu sangat dibutuhkan untuk menerangi cahaya rumah bukan hanya sekadar bayangan yang datang dan pergi. Bukankah Rasulullah pernah berpesan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
Kita memang harus mengambil contoh dari teladan, sang role model, Rasulullah Saw. Rasulullah dipenuhi kesibukan mengurus umat dan mengemban risalah besar tapi masih bisa menciptakan keluarga yang harmonis.
Semoga pilar kokoh dalam rumah bisa dibangun lagi, agar isinya kuat kembali. []
Tri Pujiati Panggabean, Guru di PAUD BKQ Payakumbuh Sumatera Barat.





