Bagaimana Perang terhadap Iran akan Mempengaruhi Ekonomi AS?
Dampaknya bergantung pada seberapa cepat kapal tanker minyak dapat kembali melintas di Selat Hormuz, kata para ahli.
Harga bensin naik
Perang tersebut sudah menaikkan harga bensin bagi konsumen Amerika.
Patrick DeHaan, analis di aplikasi GasBuddy, mengatakan harga rata-rata nasional pada Rabu mencapai $3,59 per galon (sekitar $0,95 per liter) — naik 65 sen sejak Februari.
Kenaikan terbesar terjadi di wilayah pesisir, karena pasokan bensin, diesel, dan bahan bakar jet AS lebih mudah dialihkan untuk memenuhi permintaan global.
Jika konflik berakhir, harga bensin bisa turun dalam beberapa minggu. Namun setiap minggu perang berlanjut dapat menaikkan harga 25–40 sen lagi.
Harga barang ikut naik
Seiring berlanjutnya perang, harga berbagai barang konsumsi juga akan meningkat.
Peter Sand, analis utama platform intelijen pengiriman Xeneta, mengatakan kemacetan kapal di Selat Hormuz sudah menyebabkan kemacetan pelabuhan di seluruh dunia.
Dalam jangka pendek dampaknya mungkin kecil, tetapi jika konflik berlangsung satu bulan, beberapa barang akan tertunda dan harganya naik.
Selain itu, perang ini berarti Laut Merah, yang sebagian besar ditutup pada 2025 akibat serangan kelompok Houthi , kemungkinan tetap tertutup sepanjang 2026. Padahal sebelumnya diharapkan akan dibuka kembali sehingga harga barang bisa turun.
Produk minyak dari Teluk juga digunakan langsung dalam berbagai barang konsumsi seperti: plastik, obat-obatan, dan pupuk. Kekurangan sekarang bisa berarti harga lebih tinggi di masa depan.
Misalnya, pupuk dari Teluk dibutuhkan segera untuk penanaman musim semi. Jika tertunda, produksi tanaman tahun depan bisa terpengaruh.
Kekurangan helium dari kawasan Teluk juga dapat mengganggu produksi semikonduktor, yang pada akhirnya dapat menunda produksi mobil dan industri lainnya.






